Dong!

Pun kebanyakan orang tua zaman dulu nggak berpendidikan tinggi apalah lagi punya gelar akademis berderet-deret, tapi menurut gue mereka pintar-pintar. Ini terbukti dari kecakapan mereka dalam mengemas sebuah cerita jadi mengasyikkan.

Kalau dulu babeh gue suka cerita segala yang terjadi di masa mudanya kadang dibumbui sedikit pantun, kini gue nemuin lagi orang tua yang pandai bercerita.

Jadi kemarin gue lagi ngucapin kalimat dengan kata “donk”, tiba-tiba ibunya teman yang lagi berkunjung ke tempat kami menyambar…

“Dulu, ada orang Aceh yang baru datang ke Jakarta mau naik becak,” mulai beliau dengan logat khas Aceh-nya.

Ditanya, berapa harga ke Pasar Minggu. Kata abang becaknya, “Seribu, dooonk!”

Naiklah si orang Aceh ke atas becak, tapi sambil berdiri sepanjang perjalanan.

Tukang becak pun bingung dengan kelakuan si orang Aceh, dia bilang, “Duduk, dooonk!”

Merasa ditegur, si orang Aceh akhirnya duduk, tapi nggak lama berdiri, terus duduk, terus berdiri. Begitu seterusnya.

Di akhir, ibunya teman baru bilang, “Di kami, donk itu artinya berdiri. Hehe.”

😀

2 comments

  1. titantitin · April 19

    ahahha.

    benerbener gak nyangka kalimat akhirnya.😀

    • Enje · April 19

      Iya, jenaka ceritanya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s