2 Kesalahan Dalam Membaca

In my opinion, baca buku seenggaknya ada dua adab yang perlu sekali dua kali berkali-kali diperhatikan. Biar, semangat bacanya terjaga.

I.
Masih nyambung sama postingan sebelumnya, di samping gue lagi menikmati banget bacaan yang mengkayakan hati dan imaji, kok gue juga ngerasain ya… betapa nggak nyamannya saat-saat nggak bisa mengamalkan apa yang dibaca. Uh!

Kaburo maqtan ‘indaLlahi an taqrauu wa laa ta’maluu. Kalau habis baca terus nggak segera amalin tiap nasihat dari si penulis, rasanya dosa besar banget. Amat besar kemurkaan Allah! *ini lebay emang.

Biar lebay tapi kan benar ya? Ilmu (termasuk yang bersumber dari buku) belum disebut ilmu kalau belum diamalkan. Huwoh, berat berat beraaat!

II.
Dalam baca buku juga mesti adil. In case lo punya daftar bacaan berderet-deret, jangan sekali-kali baca buku dengan urutan penulis paling kece-kece-belom beken-nubie. Ini nggak adil!

Lo pasti jadi banding-bandingin buku tersebut. Kan, kasian yang belum beken dan nubie. Ini yang gue rasain belakangan.

Sejak dikirimin beberapa buku sama penerbit untuk dibaca dan dipelajari, gue jadi menggila menggili! Kurang dari dua bulan, nyaris sepuluh buku gue baca. Ini, rekor terrajin gue dalam baca buku. Ayey!

Sayangnya, mendekati finish gue malah salah langkah. Gegaranya tergoda banget baca buku penulis beken yang sudah terbukti kualitas pula kuantitas karyanya,  buku-buku berikutnya jadi kebagian sial.

Habis-habisan gue keluhkan kok begini kok begitu dua buku terakhir 😐

Paling buruknya, semangat baca gue kembali ke kecepatan semula alias M.E.L.A.M.B.A.T! Wkwkkkk :v

Iklan

Nggak Enakan

Nggak enakan menurut gue sudah menjadi penyakit yang menimpa kebanyakan kita (termasuk gue). Mungkin maksudnya baik ya, demi menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama.

Tapi kadang “nggak enakan” ini juga mesti tau tempatnya. Jangan sampai hubungan jadi harmonis, tapi malah jadi penyakit bagi kita atau orang yang bersangkutan.

Misal, ada kesalahan orang sudah berulang-ulang dia lakukan, tapi kita nggak enakan untuk menegur karena alasan pelaku lebih tua, tukang ngambek, atau yang lainnya. Selain kita jatuhnya jadi membiarkan kesalahan orang lain, kita juga jadi makan hati terus. Ujung-ujungnya stroke loh. Kalau emang nggak enak negur langsung, bisa melalui perntara.

Atau juga, ada satu hal yang mengharuskan kita mau nggak mau pergi ke kepolisian/kelurahan/kecamatan dsb dan berhadapan dengan petugas yang mata duitan dengan alasan untuk kas blablabla. Sekali dia minta, oke lah kasih sebagai tanda terima kasih. Tapi ya jangan terus-terusan apalagi dengan nominal yang ditentukan. Ini nggak mendidik!

Sudah beberapa kali gue harus berhadapan dengan mereka. Sekali lagi, jangan mau dikadalin! Nggak ngasih mereka bukan berarti kita pelit. Ya emang nggak bakal jatuh miskin juga kalau ngasih mereka, tapi mereka juga sudah digaji untuk ngerjain pekerjaan itu kan?

Mulai sekarang, ayo belajar untuk “dibawa enakin aha” untuk kebaikan bersama juga negara! Apa mesti masuk kurikulum sekolah ya? Ekwkkk!

DDU

Seatap dengan mereka yang lebih muda, banyak ujiannya! Kemarin-kemarin, gue pikir kadang begitu. Tapi setelah baca buku Dalam Dekapan Ukhuwah punya ustadz Salim A Fillah, kayaknya gue yang banyak salahnya.

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping

Baru kali ini, baca buku dari prolog sampai epilog rasa-rasanya ditujukan semua ke telinga gue. Wkwkw, bapeeerrr! Tapi ini serius, karena si penulis mengulik abis bagaimana realita dan seharusnya kita berhubungan dengan sesama.

Makin dibaca kok ya makin sadar, betapa hubungan gue dengan sesama jauuuh dari yang sebagaimana mestinya.

Iya, ini buku jadul. Mungkin (lagi-lagi) karena faktor umur, gue semakin banting setir dari bacaan yang bergenre komedi dan roman, jadi yang lebih nyastra dan sarat hikmah. Saat teman-teman sudah heboh enam tahun lalu menggosipkan betapa bagusnya buku ini, gue baru merasakan gegap gempita bagusnya buku ini SEKARANG! XD

Tiba-tiba juga gue jadi tertarik sama yang namanya PUISI. Ini keajaiban dunia nomor 8! Hehe.

Tali Kokoh
membersamai orang-orang shalih
memang perintah Allah
memang keniscayaan bagi ikrar taqwa

tetapi meletakkan harapan
atau menggantungkan kebaikan diri padanya
pada sosok itu
adalah kesalahan
dan kekecewaan

seorang sahabat berkata padaku
“aku ingin menikah
dengannya… hanya dengannya…”
aku bertanya mengapa
“agar ia menjadi imamku…
agar ia membimbingku…
agar ia mengajariku arti ikhlas dan cinta
agar ia membangunkanku shalat malam
agar ia membersamaiku
dalam santap buka yang sederhana”

“ahh… itulah masalahnya,” kataku
dan dia kini tahu
bahwa khawatirku benar
bahwa sosok lelaki penyabar yang dia kenal
juga bisa marah, bahkan sering
bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba
kadang sulit dibangunkan untuk
shalat subuh berjama’ah
bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al-Qur’an itu
tak pernah menyempatkan diri
mengajarinya a-ba-ta-tsa

“ahh… itu masalahnya”

semakin mengenali manusia
yang makin akrab bagi kita
pastilah aib-aibnya,
sedang mengenali Allah
pasti membuat kita
mengakrabi kesempurnaanNya

MAKA GANTUNGKANAH HARAPAN
DAN SEGALA NIAT UNTUK MENJADI BAIK
HANYA PADA-NYA
HANYA PADA-NYA…

jadilah ia kokoh yang mengantar pada bahagia
dan surga

***

Ah… SUKAAA!!! 🙂

Ha!

Hay, mblo… Pernah nggak dibuat sesak oleh semesta, seolah kamu mahluk paling nggak diinginkan kehadirannya?

Kadang banget gue merasakan itu. Dan belajar dari pengalaman, nggak mau lah gue meminta ataupun menerima pundak seseorang kemudian memuntahkan semua yang gue rasakan. Bukan belagu, tapi malah membuat gue jauh dari kata syukur!

Dan sekarang gue belajar. Saat begitu kondisinya, hal pertama yang harus gue lakukan adalah… Gue akan ketawain semesta (HA!). Kedua, kemudian gue bangkit karena nggak boleh ada satupun yang boleh merenggut kebahagiaan gue. Ketiga, mari buktikan dengan karya. Yosh! 😉

image

Euforia AADC

Mari kita akui sama-sama, AADC emang “penyihir” tokcer abad 21 yang mampu menggerakkan jempol siapapun untuk share apapun tentangnya!

Apalah lagi mereka yang meremaja di era 2000-an awal, seakan terkena jampi-jampi AADC. Senangnya bukan main sejak ada mini film AADC yang dipersembahkan oleh LINE. Dan gue yakin, mereka-mereka ini yang sukses membuat AADC meraup puluhan juta penonton di hari ke-dua tayangnya di bioskop. Hiks, padahal di waktu yang sama, Aleppo sedang berdarah-berdarahnya tersebab pemimpin yang zolim! *gue nggak asik? tapi ini fakta!*

Gue pun juga sama. Turut merasakan euforia AADC, tapi menimang-nimang lagi untuk nggak melangkahkan kaki ke bioskop demi ngantri beli tiket nonton film ini. Tiap ada yang ngajak, gue bilang: mau sih, tapi malu sama jilbab!

Iya, gue ngerasa mesti adil. Berderet film positif yang disyiarkan sineas film muslim aja gue nggak minat, masa iya demi Rangga dan Cinta gue rela sambangi bioskop? Nggak, ah!

Tapi teteup, di sisi lain gue merasakan euforia AADC dalam bentuk yang lain yang lebih positif, alhamdulillah.

Sejak sosok Dian Sastro terangkat kembali di jagat maya, gue makin kepo dengan sosoknya sebagai mamah muda keren asoy! Gimana enggak, masih muda sudah beranak dua pendidikan oke punya badannya body goal para cewek!

Untuk yang terakhir, serius gue jadi termotivasi lho untuk rajin olah raga kayak doi. Bukan, bukan biar singset (sedikit iya juga sih mengingat BB yang bergerak liar menuju angka *8!), tapi biar makin sehat!

Ada kali sebulanan gue rutinin ikutin program latihan jantung harian yang bisa didonlot di playstore. Dari yang sehari cuma 5 menit, sekarang 8 menit, insyaAllah menuju 10 menit. Yosh, keringet ngocor banget emang, tapi sudah berasa banget efeknya. Selain badan jadi enteng, minum air putih makin banyak, tidur pun lebih berkualitas. Alhamduuu… lillaah!

Beberapa kali sukses ngegerakin #pertemanan sehat, olah raga bareng beberapa teman. Sayang, baru beberapa kali sudah pada nggak lanjut. Yowis, sendiri aja kita. Demi body goal! :p

Yuk aaah, rutinin latihan cardio daaan… #jangankasihkendor 😀

Ku Tersanjung

Tersanjung sebenar-benarnya tersanjung deh pas lihat statistik blog sendiri di tanggal 8 Mei kemarin! Tau kenapaaa?

Sebagai penggiat blog yang blognya nggak ada apa-apanya baik dari segi konten, tampilan, apalagi jumlah pengunjung–konten isinya curcolan doank jauh dari kata berbobot, tampilan super duper minimalis kalau nggak mau dibilang jelek, jumlah pengunjung pun biasa cuma belasan tiap harinya– Sungguh gue dibuat takjub dengan apa yang tertulis di statistik harian kemarin Ahad. Ahey!

AADE, ada apa dengan enje?

Masa ya, hari itu yang berkunjung ke blog gue melalui mesin pencari google DENGAN KATA KUNCI “ENJEKLOPEDIA” mendadak banyaaak! Hey hey siapa merekaaa? :9

Apa ini pertanda gue sudah kian terkenal (pret lah!)??? Ah, siapapun oknumnya, gue mau bilang terima kasih karena sudah niat banget buat berkunjung sampai harus menggunakan jasa mesin pencari.

Besok-besok bilang dulu ya biar gue rajinin nulis dari jauh-jauh hari (etapi nggak janji kalau sekarang-sekarang, lagi ada jadwal nulis yang lebih prioritas booo’!), sama biar bisa gue atur kontennya jadi cuma yang manfaat aja. Boleh request kok mau baca postingan yang kayak gimana. Hehe.

image

Daripada…

Di antara kakak cowok gue, ada satu yang maniak Iwan Fals banget dari masih bujang sampai sekarang sudah punya anak dua.

Dulu, doi sering banget “konser” bareng teman-temannya di garasi depan rumah sambil teriak-teriak kesetanan. Sekarang, doi kian menjadi dengan menularkan kesukaannya itu ke istri, anaknya yang masih balita, sampai keponakan gue yang sudah pada abegeh satu-satu diajak nonton konser sang legenda tiap digelar di rumahnya di bilangan Depok sana.

Seperti kemarin doi ngajak dua keponakan gue ke konsernya, yang jadi pro kontra sama kakak gue yang lain. Menurut doi, anak nggak usah diajak-ajak nonton konser. Cukup kagumi karyanya aja. Makanya, anaknya haram buat diajak nonton walau ngerengek-rengek kayak apapun.

Gue sebagai tante yang dari kecil sudah dicekokin lagu2 bang Iwan, jelas jadi yang pro dengan beberapa alasan:
1. Anak laki-laki apalagi abegeh, punya energi berlebih yang kalau nggak disalurkan ke hal-hal positif, bisa berabe. Apakah nonton konser berarti positif? Ya nggak juga. Selama ada bimbingan dari yang lebih tua, apalagi yang gelar konser sudah jelas kualitas karyanya. Ya nggak kenapa.

2. Tontonan tivi & video klip banyak yang nggak mendidik. Gue paling sebal kalau lihat keponakan nonton tivi berjam-jam apalagi nontonnya sinetron Indonesia, India, Turki, dllsb. Jadi, mending mereka ke luar melakukan hal jelas di bawah pengawasan yang lebih tua.
3. Jaman sekarang, jiwa ke-laki-laki-an anak laki-laki mesti banget diasah supaya terhindar dari virus LAGIBETE. Uh, seram! Imo, Iwan Fals itu simbol ke-laki-an banget.

4. Lagu-lagunya bang Iwan nggak menyemenye. Gue, senang bangetlah kalau keponakan pada nyanyi bareng teriak-teriak “HIO… HIO… HIO…” atau “Kuda lumping nasibnya nungging mencari makan pontang panting…” sambil gonjrang ganjreng. Daripada nyanyi lagu menyemenye band kekinian.

Oke, terakhir. Hidup HIOOO!!! 😀