Tentang Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin itu berat, tapi kenapa orang banyak yang berebut posisinya ya? Seberapapun skala kepemimpinannya di dunia pasti nggak mudah saat harus di posisi tersebut, apalah lagi di akhirat. Allah yang minta langsung LPJ-nya. Kan, ngeri!

Ini gue alamin beberapa hari belakangan saat mendapat giliran ngimamin sholat tarawih ibu-ibu & nenek-nenek di majlis taklim dekat rumah. Tugas kami bertiga (imamnya dibagi per sepuluh hari) dari ibu ketua MT adalah membacakan 1 juz Qur’an sepanjang 20 rokaat tarawih. Hingga selesai ramadhan, khatam pula bacaan Qur’an kami.

Awalnya gue kira, ah gampanglah cuma baca doank. Tapi kegampangan itu menjadi kesusahan saat realita berkata yang diimamin tak bukan para perempuan berumur yang mereka mau datang tarawih di tempat MT aja sudah alhamdulillah. Dengan segala keterbatasan: fisik yang sudah menurun, lelah setelah sibuk berjibaku dengan dapur, mata yang susah diajak kompromi. Can you imagine?

Di satu sisi ada kewajiban dari ayat Ilahi: wa rattilil qur’aana tartiila. Baca Qur’an yang tartil, woooy! Di satu sisi harus peduli dengan kondisi mereka juga. Manalah lagi gue jadi imam terakhir, sudah ada pembandingnya lah mereka. Baru datang hari pertama untuk salaman, sudah diwanti-wanti oleh kebanyakan mereka: mba, setengah 9 kurang 10 sudah selesai witir, ya? Aaakkk, aku kudu piye bacanya? 😐

Sampai saat ini masih juga molor 10 menit dari yang mereka pinta. Jela.s, tampak gurat kecewa di wajah mereka. Duh!

Ini baru jadi imam sholat. Belum imam rumah tangga, imam organisasi, imam perusahaan,  imam negara. Dst dst yang lebih banyak lagi jumlah jamaahnya.

Kalau emang ditakdirin jadi pemimpin kelak, semoga kita bisa adil. Adil terhadap Allah Sang Pemberi Amanah, adil terhadap yang dipimpin. Aamiin.

Iklan

Imam Rock & Roll

Di tempat kami biasa tarawih & itikaf, obrolan tentang imam sholat nggak pernah lepas di kalangan para cewek. Bukan apa-apa, selain bacaan mereka yang indah & hapalan Quran mereka yang sudah pada dhobit, juga ternyata 6 dari 10 para imam MASIH JOMBLO! Wkwkkkk, dasar yaaa cewek! XD

Mau cari nada yang jenis apapun ada di sini. Mau cari yang hadr, tartil, tadwir, sampai tahqiq ada juga di sini. No wonder, kalau mau tarawih banyak yang tanya dulu siapa imamnya. Kalau imam yang bacaannya hadr (cepat), kami semua pada excited pangkat tiga. Sebaliknya kalau imam yang bacaannya tahqiq (lelet, eh, lambat), butuh iman selautan untuk tetap datang tarawih di masjid tersebut. Hah! :p

Btw di antara imam itu ada yang menurut gue paling rock & roll (sayang sudah gak available, heee). Alasannya? Jelas karena bacaannya yang zuperrr cepat (tanpa kehilangan esensi tarawih: istirahat). Rasa-rasanya rmadhan makin indah kalau diimain sama beliau.

Udahlah gitu, imam yang satu ini sering buat kejutan di tiap rokaatnya. Walaupun sudah kebaca sih, ritme jumlah halaman yang dia baca pasti: banyak banget-banyak-sedang-seiprit. Dari rokaat ke rokaat.

Puncak ke-rock&roll-an dia tadi pas sholat tahajud. Dengan suara yang masih ketara betapa beliau masih baru bangun dari tidurnya, di rokaat pertama kami ‘dikerjain’ dengan bacaan juz 1 FULL 1 JUZ. Rokaat kedua 1/2 juz 2. Wakwaaaw! Buat yang baru pertama kali diimamin beliau, pastu ngedumel sejadi-jadinya. Tapi yang sudah pernah diimamin, cuma senyum-senyum senang campur kecut. Sayid Quthb…Sayid Quthb! Mantaaab!

Godaan Itu Bernama… LOMBOK!

Wooot wooot wooot… kemarin malam seorang teman yang asli suku Sasak, menawarkan sebuah tawaran yang bikin gue gak tenang sholat tarawih! Apa ituuu? Yak, kerja di Lombok dengan passion yang gue banget! XD

Berhubung ya… gue lagi tarawih, gue bilang lanjut nanti aja chat-nya (padahal dalam hati sudah kegirangan lala lala yeye yeye). Alhamdulillah sekaligus innalillah, sepanjang setengah terakhir tarawih gue malah menimbang-nimbang plus minus tawaran tersebut.

Sudah gue ancang-ancang di sana sekadar cari pengalaman, tiap weekend eksplorasi Lombok dsk, rajin ngobrol sama native, menemukan teman-teman lama mbakembak dan masemas yang asli lombok (finding mba umang, ridwan & iwan lalu). Sampai ke bagian minusnya, gue terbayang-bayang lesson learn yang guru gue ajarin pagi tadi tentang PRIORITAS. Hah, hancur sudah angan-angan gue tentang Lombok! 😐
Kata beliau, hidup tuh harus punya prioritas, Nje! Gue pun angguk-angguk mengamini perkataannya 100%.

Prioritas hidup kita haruslah yang bawa manfaat dunia akhirat. Beliau kasih contohnya tentang  pendidikan.

Sekarang banyak banget masyarakat kita yang rOyal bela beli barang dari aksesoris pribadi sampai perabot rumah via online maupun wara wiri sendiri dari mall ke mall. Tapi giliran untuk pendidikan… pinjam sana-sini meminta belas kasihan orang lain. “Untuk pendidikan, nih, kasian anak saya gak boleh ikut ujian kalau belum bayaran spp.”

Miris sekaligus jengkelin gak sih? Itu kan satu hal yang bisa diusahain dari awal-awal anak masuk sekolah. Atau disisihin pertama kali saat gajian di awal bulan. Untuk kepentingan pribadi (makan, beli keperluan yang kurang urgent) itu bisa diatur sesuai bajet yang ada. Tapi kalau pendidikan, berkaitan dengan hak orang lain (gaji guru dan lainnya yang menunjang pendidikan si anak di sekolah). Makanya mesti banget diprioritasin, biar berkah ilmu yang didapat si anak.

Kirpikir, perginya gue ke Lombok mungkin akan memberi banyak kesenangan. Tapi, bukan itu prioritas hidup gue sekarang. Tengah malam gue lanjutin chat, menjelaskan keputusan yang sudah gue buat beserta alasannya. Tadi sahur dia balas lagi. “Kereeen, Ka. La ba’sa. 🙂 :)”

Oke… Bye, Lombok! Yakin kita bakal ketemu lain waktu, di waktu paling tepat.