Godaan Itu Bernama… LOMBOK!

Wooot wooot wooot… kemarin malam seorang teman yang asli suku Sasak, menawarkan sebuah tawaran yang bikin gue gak tenang sholat tarawih! Apa ituuu? Yak, kerja di Lombok dengan passion yang gue banget!😄

Berhubung ya… gue lagi tarawih, gue bilang lanjut nanti aja chat-nya (padahal dalam hati sudah kegirangan lala lala yeye yeye). Alhamdulillah sekaligus innalillah, sepanjang setengah terakhir tarawih gue malah menimbang-nimbang plus minus tawaran tersebut.

Sudah gue ancang-ancang di sana sekadar cari pengalaman, tiap weekend eksplorasi Lombok dsk, rajin ngobrol sama native, menemukan teman-teman lama mbakembak dan masemas yang asli lombok (finding mba umang, ridwan & iwan lalu). Sampai ke bagian minusnya, gue terbayang-bayang lesson learn yang guru gue ajarin pagi tadi tentang PRIORITAS. Hah, hancur sudah angan-angan gue tentang Lombok!😐
Kata beliau, hidup tuh harus punya prioritas, Nje! Gue pun angguk-angguk mengamini perkataannya 100%.

Prioritas hidup kita haruslah yang bawa manfaat dunia akhirat. Beliau kasih contohnya tentang  pendidikan.

Sekarang banyak banget masyarakat kita yang rOyal bela beli barang dari aksesoris pribadi sampai perabot rumah via online maupun wara wiri sendiri dari mall ke mall. Tapi giliran untuk pendidikan… pinjam sana-sini meminta belas kasihan orang lain. “Untuk pendidikan, nih, kasian anak saya gak boleh ikut ujian kalau belum bayaran spp.”

Miris sekaligus jengkelin gak sih? Itu kan satu hal yang bisa diusahain dari awal-awal anak masuk sekolah. Atau disisihin pertama kali saat gajian di awal bulan. Untuk kepentingan pribadi (makan, beli keperluan yang kurang urgent) itu bisa diatur sesuai bajet yang ada. Tapi kalau pendidikan, berkaitan dengan hak orang lain (gaji guru dan lainnya yang menunjang pendidikan si anak di sekolah). Makanya mesti banget diprioritasin, biar berkah ilmu yang didapat si anak.

Kirpikir, perginya gue ke Lombok mungkin akan memberi banyak kesenangan. Tapi, bukan itu prioritas hidup gue sekarang. Tengah malam gue lanjutin chat, menjelaskan keputusan yang sudah gue buat beserta alasannya. Tadi sahur dia balas lagi. “Kereeen, Ka. La ba’sa.🙂 :)”

Oke… Bye, Lombok! Yakin kita bakal ketemu lain waktu, di waktu paling tepat.

7 comments

  1. Prita Pdinata · Juni 25

    Wah, gimana rasanya ya ditawarin pekerjaan gue banget di tempat keren dan asik… Yah, apapun keputusan Kak Enje, semoga itu membuka kesempatan yang lebih lebih baik yaa!

    • Enje · Juni 25

      Tersanjung Prit hehe. Iya aamiin. Yglebih baik dunia akhirat🙂

  2. Sekar · Juni 25

    Ya Allah mbak enjeeee :” mudah-mudahan semuanya berkah ya. Kalo udah gini, kita jadi sadar, ternyata kita hidup udah ada script-nya, udah ditentuin adegan per-adegannya. Cuma sering melenceng karena berbenturan dengan ego strenght. Mending kalo adegannya sesuai dengan kehendak kita sebagai manusia. Kalau ternyata enggak, mesti siap stok sabar dan husnuzon *bawa kaca*

    • Enje · Juni 25

      Yoman… Sama satu. Kadang Allah nguji kesungguhan priorias kita dgn hal2 menggiurkan. Dia mw tau, bener gak sih prioritas yg kita bawa2 di tiap doa beneran prioritas hidup kita. Ah, smesta mah kadang gitu. Suka ajak bercanda. Wkwkwkkk

      • Sekar · Juni 27

        ih iya banget!

  3. housewivegeek · Juli 6

    Yahhh ayo dong lombok. Biar ada tempat singgah

    • Enje · Juli 18

      Gak. Msh ada yg lbh keren dan menantang dr lombok. Wkwkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s