Sosial Media, Yay or Nay?

Waktu itikaf kemarin, gue bertemu seorang kenalan zaman kuliah dulu. You know lah kalau perempuan sudah lama nggak bersua, obrolannya ngalor ngidul nggak kenal waktu. Hiks, dalam hati gue merutuki “kenapa malam ini gue itikaf di siniiih?!”. Beneran momen yang nggak pas buat banyak ngobrol.

Tapi demi menjaga hubungan pertemanan, gue ladeni lah edisi saling curhat itu, yang salah satu poinnya kenapa si kenalan gue selama ini menghilang. Ternyata dia putuskan untuk menutup semua akun sosial medianya dengan dalih, “jalanin aja hidup kita masing-masing.”

Menurutnya, kadang apapun yang diposting oleh teman-teman mayanya malah membuat mutung hidup. Si ini sudah punya anu, si itu sudah punya nganu. Daripada makin nggak banyak bersyukurnya, lebih baik say good bye terhadap social media. See you on top!

Tadinya gue pikir, oke lo keren. Punya prinsip!

Kemudian kekaguman gue amblas begitu sepanjang 3/4 sesi curhat jadi dia yang mendominasi obrolan, gue yang banyakan dengerin. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dia dan suaminya diceritain tanpa gue minta! :v

Kesimpulan gue saat itu. Sudahlah, kita emang butuh sosial media untuk menumpahkan apapun yang kita mau tumpahkan. Syaratnya harus bisa dipertanggung jawabkan.

Iya, perlu banget punya tanggung jawab di sosial media walaupun tersedia opsi edit bahkan delete di dalamnya. Bukan apa-apa, apa yang kita posting pertama kali itulah yang orang baca tentang kita.

Sekaliber ustadz/ah sekalipun kadang suka terjeblos dalam salah-salah posting. Apalah lagi kita. Jadi ingat perkataan seorang ustadzah. “Nggak boleh suuzhon. Tapi menjaga perasaan orang lain dari suuzhon terhadap diri kita lebih nggak boleh lagi.”

Jadi… pakai ajalah sosial media menurut kadarnya. Kita yang paling tau kapan kita harus posting ini, kapan kita harus menahan diri dari posting itu. Manusia butuh wadah untuk pembuktian eksistensi dirinya, bahkan seorang editor sekalipun yang profesinya di belakang layar. Masalahnya ya itu: apa yang kita posting, itulah gambaran diri kita.

image

Kan sayang foto keren ini cuma ngebangke di galery. Kita butuh sosial media sebagai wadahnya. Wkwkkkk!

Iklan

Nubie Naik Gunung Ceremai (3)

image

"lubang"nya Ceremai

Semoga nggak nge-spam dan nggak bosan. Hehe. Lanjut sharing pengalaman naik gunung untuk yang pertama kali dari sini dan sini yaaa…

Mendaki ngajarin gue untuk bertanggung jawab menuntaskan apapun yang gue lakukan.

Pendakian menuju puncak yang totalnya kurleb 18 jam, kami nikmati hasilnya dengan mengagumi Maha Karya Sang Maha Pencipta, foto-foto dan… TIDUR. Totalnya 1.5 jam. Nggak tau, gue lebih antusias tidur daripada antri foto-foto di puncaknya banget, tempat bendera merah putih berkibar-kibar.

Sesuai rencana awal, kami harus turun pulang nggak pakai nge-camp. Lebih ringkas awalnya, yakni 2 jam saja kami sudah sampai tenda di Pos Batu Lingga (saking capeknya, gue & Midah memilih untuk “nyerosot” di mana ada jalur berpasir). Setelah sholat, makan makanan yang tersisa, packing, kami lanjutkan perjalanan turun. Sang ketua (Dicky) meyakinkan, kami dapat menyelesaikan perjalanan turun 3-5 jam saja sampai Pos Cibunar.

Ya, doi bisa. Berdua dengan Ana, mereka melesat turun sampai Pos Pondang Amis tepat pukul 17. Sedang sisanya (Gue, Midah, Mari & Ari) jalan melambat gegara kaki gue yang kian nggak bisa diajak kompromi tepatnya setelah Pos Pangalap. Mendadak, dari pangkal paha sampai ujung jempol kelingking gue seperti bersekutu nggak mau menopang beban tubuh beserta bebannya. Kata seorang teman yang minjamin cariier, turun emang lebih susah daripada naik. Awalnya gue nggak setuju, tapi kini gue aminkan perkataan doi. Betul betul betulll.

Sampai pukul 23 kami nggak kunjung menemukan Pos Leuwung Datar. Jalur perjalanan pulang rasa-rasanya makin asing aja. Saat mata makin terasa sepat, kami putuskan untuk dirikan tenda di antara Pos Kuburan Kuda dan Pos Leuwung Datar. Alhamdulillah-nya tenda dibawa si Mari. Tanpa banyak omong, setelah sholat Isya semua tertidur pulas sampai Pukul 5 Subuh.

Berhubung dari awal emang nggak niat nge-camp, makanya persediaan air dan makanan sudah setiris-tirisnya (air yang ditimbun sebagian juga kami biarkan nggak dibawa turun lagi. Biar jadi rejeki untuk siapapun yang menemukannya). Air yang ada cuma cukup untuk memasak teh tarik 3sachet. Satu-satunya perbekalan yang tersisa.

Tepat pukul 7.30, dengan tenaga yang berasal cuma dari teh tarik, kami lanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, medannya sudah lumayan landai dan lapang, kaki gue pun sudah lumayan bisa diajak kerja sama. Pukul 8.30 kami sampai di Pos… Cibunaaar. ALHAMDULILLAAAH!

Di Pos Cibunar, hal pertama yang kami cari adalah: Indomie & air minum langsung dari sumbernya. Keduanya beneran nikmat mengingat perjalanan semalam yang bikin lelah jiwa raga.ย  Di sini sinyal sudah ada lagi. Midah segera hubungin Dicky & Ana untuk menjemput kami dengan motor.

Beberapa langkah kami tinggalkan Pos Cibunar. Dicky & Ana sudah tiba. Sisa tenaga kamipun terselamatkan sampai Pos Linggasana (Pos wajib lapor). Lapor selesai pendakian, serahin sampah, dapat sertifikat donk! *dengan biaya registrasi yang 50ribu/orang, sampai nggak sampai puncak tetap dapat sertifikat.

Sampai di sini aja sih kebersamaan kam. Setelahnya gue dan Midah memutuskan untuk berendam di air panas terdekat (Sangkan Hurip). Yang lai langsung balik untuk istirahat & persiapan sholat Jumat.

Nggak lama berendam, gue putuskan untuk langsung balik ke rumah naik bis Kuningan-Jakarta sampai Pasar Rebo. Perjalanan terakhir pun gue tuntaskan dengan Grabbike saking sudah capeknya. Alhamdulillah, pukul 20.30 sampai rumah dengan selamat.

Dengan kondisi badan yang hampir ambruk begitu, terasa banget. Senyaman-nyamannya tempat tinggal ya emang rumah sendiri beserta orang di dalamnya. Alhamdulillah ada kakak ipar yang bersedia ngerokin & mijetin. Ada juga kakak cowok yang hobi masak buatin makanan.

Sampai tulisan ini dibuat, pegal linu dan flu masih bertamu. Ya dinikmatin aja lah ya. Semoga jadi penggugur dosa selama di gunung kemarin. Mungkin thaharah yang kurang sempurna, sholat yang seadanya, segala rukhsoh yang dipakai dengan dalih “darurat”. Ya Allah… maaf.

image

Terima kasih pelajaran perjalanannya, Buddies! ๐Ÿ™‚

Nubie Naik Gunung Ceremai (2)

Masih lanjut tulisan sebelumnya di bagian ini gue mau share tentang perjuangan kami naik ke pucuk pucuk pucuk… yang rencananya harus sampai pos terakhir jam 5 subuh. Biar abis sholat bisa lanjut ke puncak buat dapetin sunrise, siangan lanjut lagi turun nggak pake nginep. Super, kan?

Mimpi boleh donk yang tinggi, yah  walaupun langsung dijatuhkan seketika sama penjaga pos lapor di Pos Linggasana, “Saya liat kamu orangnya terlalu sesumbar,” cecar si bapak ke Dicky saat doi bilang kami akan turun lagi besok sore. “Saya tulis kalian turun Jumat saja ya.” Wkwkkkk.

Sebagai seorang nubie, gue juga agak nggak yakin sih. Apa iya bisa segampang itu mendaki, mengingat info yang gue dapat dari mbah Google dan sanak saudara yang sudah pernah ke sana, jalurnya itu lhooo… MANTAB! Tapi, kita iyain aja dulu deh. Namanya juga nebeng orang.

image

Ini lho Pos yg mesti dilalui via Linggajati ๐Ÿ˜

Bada sholat Ashar, pukul 17 teng kami mulai menuju Pos Cibunar. Sesuai petunjuk yang gue dapat, menuju ke sana tanpa istirahat memakan waktu 1 jam saja. Jalannya masih enak lah. Aspal. Dan benar aja, kurang dari waktu normal kami sudah sampai.

Fyi, gunung Ceremai ini merupakan gunung yang nggak ada sumber mata airnya. Kecuali Pos Cibunar yang masih ada sumber airnya. Jadi, yang mau nanjak gunung ini, emang kita butuh air untuk di atas, tapi biar irit tenaga, ambil air di pos Cibunar aja deh. Jangan kayak gue yang sudah siap siaga bawa 4.5 lt air dari Alfamart Kuningan. Walhasil, capek duluan sebelum bertempur di medan sesungguhnya. Sukuriiin!

Istirahat sejenak, isi air dan wudhu, lanjut kami jalan ke pos berikutnya: Pos Leuweng Datar. Tenaga masih banyak juga, kami dapat menempuh kurleb 30menit seperti prediksi. Di pos ini kami sholat Maghrib, di pos ini pula kami temui tim yang jalan terlebih dahulu sudah mendirikan tenda. Dalam hati gue, enaknya yang istirahaat!

image

Masih banyak tenaga, masih banyak gaya

image

Semangat ea kakaaa'

Pos berikutnya Pondang Amis, tempat kami sholat Isya dan ngemilin gula merah sejenak. Pakaian kami tebalkan untuk persiapan membelah malam.

Pelajaran pertama yang gue dapat di sini, betul lah kata Sang Nabi. Sholat itu istirahatnya orang beriman. Sambil sholat gue atur napas dan me’recharge’ tenaga untuk pos berikutnya: Pos Kuburan Kuda.

Namanya horor, alhamdulillah belum terlalu malam jadi gak krik-krik banget lah ya. Jalur tempuh kami mulai meleset sedikit deh kayaknya (harusnya 1 jam). Banyak semacam rotannya gitu di sepanjang jalan. Sudah mulai menyempit juga jalannya.jalan

image

Hayati lelah, Bang...

Masalah tenaga mulai muncul banget saat kami harus menumpuh Pos Pangalap. Gue sih tepatnya, sudah rajin minta istirahat di antara perjalanan. Akhirnya kami putuskan untuk nyahi-nyahi sebentar. Nge-wedang jahe sachetan & makan nasi se-tupperware ber-6 dengan menu pilus & bon cabe! :v

Biar lelah, semangat untuk menikmati sunrise masih membara. Kami putuskan untuk jalan lagi menuju Pos Tanjakan Seruni & Pos Bapak Tere (bahasa Sunda: Bapak Tiri). Imo, ini jalur yang paling kejam. Hiks! Sudahlah jalurnya panjang, becek sisa hujan, makin malam makin dingin makin senyap, terjal pula. Pelajaran yang kami dapat di sini: ternyata bapak tiri lebih sadis daripada ibu tiri di sinetron-sinetron di tivi! Hehe

Istirahat makin sering, keluhan dan guyonan “ya Allah, buat usaha paralayang/flying fox di sini laris manis, kali!” mulai muncul, gue terjeblos ke tanah lembek juga makin intens. Alhamdulillah teman-teman sabar banget nungguin gue yang tertatih-tatih.

Mulai di sini juga kalau nggak salah persediaan air kami yang menurut si ketua terlalu berlebih, mulai ditimbun satu per satu. Air di carrier gue terlebih dulu sih. Mungkin mereka kasian ngeliat gembolan gue kegedean, makanya jatoh terus. Wkwkkk. Mamamin!

Suasana malam kian mencekam. Cuma ada suara hewan malam, napas yang nggak beraturan & langkah kaki kami. Orang bilang, ngedaki enaknya malam-malam, biar nggak berasa jauhnya. Tapi jujur gue nggak suka suasana sepi bak di dalam kuburย ini. Bibit-bibit putus asa dalam diri gue pun mulai bermekeran di dua pos ini. 3/4 hati gue bertekad, di pos berikutnya gue bakal menyatakan untuk nyerah. Biarlah mereka jalan terus ke puncak, gue mau istirahat.

Tapi maluuu, mengingat teman-teman yang nyemangatin & jagain gue. Sesekali mereka memekikkan takbir bersautan, sesekali mereka bilang, “Anggap aja puncak itu surga, Teh. Masuk surga butuh perjuangan.” ah iya juga.

Alhamdulillah ini kaki masih bisa diajak kompromi untuk nanjak sampai pos Batu Lingga. Well, berhubung waktu sudah mendekati Subuh, hampir semua dari kami juga hopeless untuk dapetin sunrise. Nggak mau enggak, tanpa dikomando semua pulas tertidur beralaskan tanah beratapkan bulan & bintang gemintang.

image

Akhirnya... makan enak!

image

Senyum puas sudah bisa tidur + sarapan

Pukul 5 lebih kami terbangun untuk sholat dan sarapan, plus memutuskan mendirikan tenda di sini. Gue kan tadinya termasuk yang nggak mau lanjut ke atas ya, alhamdulillah masih banyak yang semangat untuk sampai ke puncak berhubung tinggal dua pos yang tersisa. Kami pun lanjut lagi naik ke atas dengan semangat baru. Yeay!

image

Pos PHP, woooo!

Pos berikutnya Pos Sangga Buana. Waktu tempuh normal tanpa istirahat 2jam. Kami sempat kepedean saat di 35 menit perjalanan ternyata kami sudah sampai. Sayangnya Pos ini pelaku-pelaku PHP, sodara-sodari! Di atas, dengan jalur yang lebih sulit, masih adalagi Pos Sangga Buana… 2! Haha.

Capek iya, tapi puncak sudah di depan mata. Satu pos lagi (Pos Pengasinan) kami sudah hampir menaklukkan si Puncak Ceremai.

Napas kian ngos-ngosan. Hanya si Ana yang teruuus aja jalan menapaki batu-batu dengan lincahnya sambil sesekali meneriaki kami, “5 menit lagi!” Iya, 5 menit. Tapi kalau diulang sampai 10 kali jadi 50 menit. Heuw.

image

1 langkah lagiiih!

Bersyukur banget kami nggak jadi diriin tenda di Pos Pengasinan. Selain nggak kebayang mesti menanjak batu sambil bawa carrier, di pos ini juga sudah banyak yang mendirikan tenda, banyak sampah plus bau pesing pula. Enaknya bisa menikmati bunga edelweis di mari. Nggak enaknya ya itu. Kotorrr!

Daaan… Puncak pun sudah ada di pelupuk mata. Wajib banget perjalanan diteruskan. Dengan sisa tenaga yang tinggal remah-remah, sambil ngedumel gue tapaki bebatuan itu. Nggak pernah nyicipin wall climbing, tapi sekalinya langsung dijejalin climbing beneran. Yang tadinya pegel cuma di kaki, kini merambah ke tangan dan sekujur badan.

Alhamdulillah, saat melihat orang tenda sebelah di Pos Batu Lingga mulai menjajari, gue jadi semangat lagi. Masa gue kebalap sama yang jalan belakangan? Nggak sudiiii!

image

Sampai puncak, disponsori oleh... IGen ๐Ÿ™‚

Kurleb 20 batu gue lalui, daaan finally sampailah gue di puncak. Yeaaay, alhamduuulillah. Awan putih mengambang di belakang gue, ini priceless banget emang. Tapi gue jadi bertanya-tanya, perjalanan sejauh ini sebenarnya untuk apa? Foto-foto buat dipejeng di sosmed? Itu iya, tapi bukan inti dari intinya. Mengagumi ciptaan Allah, kerja sama tim, hidup berdampingan dengan alam, pulang lagi ke rumah membawa berjuta pelajaran. Kita, nggak bisa hidup sendiri.

image

BEST PICTURE EVAAAH! โค

Capeknya sudah klimaks, gue “tinggalkan jejak” & tidur sejenak. Kapan lagi bisa tidur di atas awan? ๐Ÿ™‚

Bersambung ke sini yaaa…

Nubie Naik Gunung Ceremai (1)

Assalamu’alaikum ‘alaikum yaeeey…

From now and then, gue mau share pengalaman naik gunung Ceremai, ah. Agak norak, sih, tapi biar ada jejak abis turun gunung. Selain jejak kaki, sertifikat, juga tulisan! Gapapa yayayaaa…?! ๐Ÿ˜€

Oke, pertama-tama gue mau cerita dulu tentang… proses gue bisa pergi ke gunung tertinggi di Jawa Barat ini. How come?

Jadi salah satu dari list di have to do gue di tahun ini adalah nyicipin naik gunung. Dari sebelum Ramadhan, gue bilang lah ke salah satu teman yang baru turun (namanya Nurhamidah) “Kapan naik lagi, gue ikut ya?”. Ndilalah… gayung bersambut dia bilang emang mau naik gunung Ceremai sekalian pulang kampung di Kuningan. Tanpa tau kalau itu gunung treknya super gila, gue iya kan lah. Deal, H+7 lebaran kami berangkat.

Dengan persiapan fisik yang minim (puasa stop olah raga, lebaran kebanyakan makan santan), Rabu 13 Juli bada Subuh gue berangkat demi mengejar kereta Tegal Express yang super murah meriah mengingat waktu libur lebaran (49ribu, meeen!).

Kereta berangkat pukul 7.45 dari St Pasar Senen, sampai di St Cirebon Prujakan pukul 11.30. Teman gue sudah stand bye dengan dua orang temannya, Ary dan Niam untuk langsung menuju tempat sewa tenda dan peralatan nge-camp lainnya.

Fyi, gue dibonceng sama Niam pakai motor Honda tahun 70-an yang dimodif jadi mirip-mirip Harley kekinian. Aduhaaai… sukses bikin gue ngerasa jadi orang paling kece se-Cirebon&Kuningan sepanjang jalan, dah!
Selesai urusan pinjam tenda dkk, kami menuju rumah Midah untuk istirahat sebentar di Cibeber, Kuningan. Kemudian lanjut ke Alfamart terdekat untuk bertemu dengan yang lain. Dari situ gue jadi tau, tim yang akan nanjak terdiri dari Gue, Midah, Mari (adiknya Midah), Ana (sepupunya Midah), Dicky (teman SMA-nya Midah), Ari (juga teman SMA-nya Midah).

Ber-5 kami naik elf menuju per4an Linggarjati (Dicky sudah duluan naik motor) kemudian lanjut naik mobil omprengan Bah Jambrong yang konon emang khusus menyediakan tumpangan untuk para calon pendaki sampai ke pos wajib lapor (Pos pertama, Pos Linggasana) dengan harga 10ribu saha. Ini murah mengingat kalau jalan bakal memakan waktu 1jam. Ngirit tenaga, bro!

Oiya, sebelum berangkat sebetulnya gue sudah googling tentang gunung Ceremai. Salah satunya di sini. Tau lah gue, untuk bisa sampai ke puncak Ceremai (3078mdpl) terdapat 3 jalur. Yakni jalur Apuy, Palutungan, dan Linggajati (terkenal dengan gedung bersejarah tempat diadakan perjanjian Linggarjati dulu) yang merupakan jalur paling jauh/panjang/sulit diantara dua lainnya. Sejujurnya agak nyeri dan mau mundur waktu si Midah bilang naiknya lewat jalur Linggajati, “biar berasa naik gunungnya, Kak!”. Tapi apa daya, gue cuma ngikut mereka, masa iya mau nawar? Alhamdulillah juga gue belum pernah naik gunung, jadi belum ada pembanding. Lanjut aja dah. Janji sudah keburu janji, apapun yang terjadi pendakian harus tetap jadi! Yeah!

Di pos pendaftaran, ketua kelompok pun ditentukan. Oleh Midah, Dicky ditunjuk sebagai ketua karena doi yang sudah pernah naik sampai puncak lewat jalur ini. Walau sudah beberapa tahun yang lalu, pas doi masih berseragam abu-abu. Bismillah. Kami percayakan pendakian ini pada ahlinya, eh, pada si Dicky.

image

Nubie. Bawaan paling heboh. Wkwkkk

Bersambung ke sini yuuuk!