Nubie Naik Gunung Ceremai (2)

Masih lanjut tulisan sebelumnya di bagian ini gue mau share tentang perjuangan kami naik ke pucuk pucuk pucuk… yang rencananya harus sampai pos terakhir jam 5 subuh. Biar abis sholat bisa lanjut ke puncak buat dapetin sunrise, siangan lanjut lagi turun nggak pake nginep. Super, kan?

Mimpi boleh donk yang tinggi, yah  walaupun langsung dijatuhkan seketika sama penjaga pos lapor di Pos Linggasana, “Saya liat kamu orangnya terlalu sesumbar,” cecar si bapak ke Dicky saat doi bilang kami akan turun lagi besok sore. “Saya tulis kalian turun Jumat saja ya.” Wkwkkkk.

Sebagai seorang nubie, gue juga agak nggak yakin sih. Apa iya bisa segampang itu mendaki, mengingat info yang gue dapat dari mbah Google dan sanak saudara yang sudah pernah ke sana, jalurnya itu lhooo… MANTAB! Tapi, kita iyain aja dulu deh. Namanya juga nebeng orang.

image

Ini lho Pos yg mesti dilalui via Linggajati 😐

Bada sholat Ashar, pukul 17 teng kami mulai menuju Pos Cibunar. Sesuai petunjuk yang gue dapat, menuju ke sana tanpa istirahat memakan waktu 1 jam saja. Jalannya masih enak lah. Aspal. Dan benar aja, kurang dari waktu normal kami sudah sampai.

Fyi, gunung Ceremai ini merupakan gunung yang nggak ada sumber mata airnya. Kecuali Pos Cibunar yang masih ada sumber airnya. Jadi, yang mau nanjak gunung ini, emang kita butuh air untuk di atas, tapi biar irit tenaga, ambil air di pos Cibunar aja deh. Jangan kayak gue yang sudah siap siaga bawa 4.5 lt air dari Alfamart Kuningan. Walhasil, capek duluan sebelum bertempur di medan sesungguhnya. Sukuriiin!

Istirahat sejenak, isi air dan wudhu, lanjut kami jalan ke pos berikutnya: Pos Leuweng Datar. Tenaga masih banyak juga, kami dapat menempuh kurleb 30menit seperti prediksi. Di pos ini kami sholat Maghrib, di pos ini pula kami temui tim yang jalan terlebih dahulu sudah mendirikan tenda. Dalam hati gue, enaknya yang istirahaat!

image

Masih banyak tenaga, masih banyak gaya

image

Semangat ea kakaaa'

Pos berikutnya Pondang Amis, tempat kami sholat Isya dan ngemilin gula merah sejenak. Pakaian kami tebalkan untuk persiapan membelah malam.

Pelajaran pertama yang gue dapat di sini, betul lah kata Sang Nabi. Sholat itu istirahatnya orang beriman. Sambil sholat gue atur napas dan me’recharge’ tenaga untuk pos berikutnya: Pos Kuburan Kuda.

Namanya horor, alhamdulillah belum terlalu malam jadi gak krik-krik banget lah ya. Jalur tempuh kami mulai meleset sedikit deh kayaknya (harusnya 1 jam). Banyak semacam rotannya gitu di sepanjang jalan. Sudah mulai menyempit juga jalannya.jalan

image

Hayati lelah, Bang...

Masalah tenaga mulai muncul banget saat kami harus menumpuh Pos Pangalap. Gue sih tepatnya, sudah rajin minta istirahat di antara perjalanan. Akhirnya kami putuskan untuk nyahi-nyahi sebentar. Nge-wedang jahe sachetan & makan nasi se-tupperware ber-6 dengan menu pilus & bon cabe! :v

Biar lelah, semangat untuk menikmati sunrise masih membara. Kami putuskan untuk jalan lagi menuju Pos Tanjakan Seruni & Pos Bapak Tere (bahasa Sunda: Bapak Tiri). Imo, ini jalur yang paling kejam. Hiks! Sudahlah jalurnya panjang, becek sisa hujan, makin malam makin dingin makin senyap, terjal pula. Pelajaran yang kami dapat di sini: ternyata bapak tiri lebih sadis daripada ibu tiri di sinetron-sinetron di tivi! Hehe

Istirahat makin sering, keluhan dan guyonan “ya Allah, buat usaha paralayang/flying fox di sini laris manis, kali!” mulai muncul, gue terjeblos ke tanah lembek juga makin intens. Alhamdulillah teman-teman sabar banget nungguin gue yang tertatih-tatih.

Mulai di sini juga kalau nggak salah persediaan air kami yang menurut si ketua terlalu berlebih, mulai ditimbun satu per satu. Air di carrier gue terlebih dulu sih. Mungkin mereka kasian ngeliat gembolan gue kegedean, makanya jatoh terus. Wkwkkk. Mamamin!

Suasana malam kian mencekam. Cuma ada suara hewan malam, napas yang nggak beraturan & langkah kaki kami. Orang bilang, ngedaki enaknya malam-malam, biar nggak berasa jauhnya. Tapi jujur gue nggak suka suasana sepi bak di dalam kuburΒ ini. Bibit-bibit putus asa dalam diri gue pun mulai bermekeran di dua pos ini. 3/4 hati gue bertekad, di pos berikutnya gue bakal menyatakan untuk nyerah. Biarlah mereka jalan terus ke puncak, gue mau istirahat.

Tapi maluuu, mengingat teman-teman yang nyemangatin & jagain gue. Sesekali mereka memekikkan takbir bersautan, sesekali mereka bilang, “Anggap aja puncak itu surga, Teh. Masuk surga butuh perjuangan.” ah iya juga.

Alhamdulillah ini kaki masih bisa diajak kompromi untuk nanjak sampai pos Batu Lingga. Well, berhubung waktu sudah mendekati Subuh, hampir semua dari kami juga hopeless untuk dapetin sunrise. Nggak mau enggak, tanpa dikomando semua pulas tertidur beralaskan tanah beratapkan bulan & bintang gemintang.

image

Akhirnya... makan enak!

image

Senyum puas sudah bisa tidur + sarapan

Pukul 5 lebih kami terbangun untuk sholat dan sarapan, plus memutuskan mendirikan tenda di sini. Gue kan tadinya termasuk yang nggak mau lanjut ke atas ya, alhamdulillah masih banyak yang semangat untuk sampai ke puncak berhubung tinggal dua pos yang tersisa. Kami pun lanjut lagi naik ke atas dengan semangat baru. Yeay!

image

Pos PHP, woooo!

Pos berikutnya Pos Sangga Buana. Waktu tempuh normal tanpa istirahat 2jam. Kami sempat kepedean saat di 35 menit perjalanan ternyata kami sudah sampai. Sayangnya Pos ini pelaku-pelaku PHP, sodara-sodari! Di atas, dengan jalur yang lebih sulit, masih adalagi Pos Sangga Buana… 2! Haha.

Capek iya, tapi puncak sudah di depan mata. Satu pos lagi (Pos Pengasinan) kami sudah hampir menaklukkan si Puncak Ceremai.

Napas kian ngos-ngosan. Hanya si Ana yang teruuus aja jalan menapaki batu-batu dengan lincahnya sambil sesekali meneriaki kami, “5 menit lagi!” Iya, 5 menit. Tapi kalau diulang sampai 10 kali jadi 50 menit. Heuw.

image

1 langkah lagiiih!

Bersyukur banget kami nggak jadi diriin tenda di Pos Pengasinan. Selain nggak kebayang mesti menanjak batu sambil bawa carrier, di pos ini juga sudah banyak yang mendirikan tenda, banyak sampah plus bau pesing pula. Enaknya bisa menikmati bunga edelweis di mari. Nggak enaknya ya itu. Kotorrr!

Daaan… Puncak pun sudah ada di pelupuk mata. Wajib banget perjalanan diteruskan. Dengan sisa tenaga yang tinggal remah-remah, sambil ngedumel gue tapaki bebatuan itu. Nggak pernah nyicipin wall climbing, tapi sekalinya langsung dijejalin climbing beneran. Yang tadinya pegel cuma di kaki, kini merambah ke tangan dan sekujur badan.

Alhamdulillah, saat melihat orang tenda sebelah di Pos Batu Lingga mulai menjajari, gue jadi semangat lagi. Masa gue kebalap sama yang jalan belakangan? Nggak sudiiii!

image

Sampai puncak, disponsori oleh... IGen πŸ™‚

Kurleb 20 batu gue lalui, daaan finally sampailah gue di puncak. Yeaaay, alhamduuulillah. Awan putih mengambang di belakang gue, ini priceless banget emang. Tapi gue jadi bertanya-tanya, perjalanan sejauh ini sebenarnya untuk apa? Foto-foto buat dipejeng di sosmed? Itu iya, tapi bukan inti dari intinya. Mengagumi ciptaan Allah, kerja sama tim, hidup berdampingan dengan alam, pulang lagi ke rumah membawa berjuta pelajaran. Kita, nggak bisa hidup sendiri.

image

BEST PICTURE EVAAAH! ❀

Capeknya sudah klimaks, gue “tinggalkan jejak” & tidur sejenak. Kapan lagi bisa tidur di atas awan? πŸ™‚

Bersambung ke sini yaaa…

Iklan

13 comments

  1. titantitin · Juli 18, 2016

    mana poto2nyaah

    • Enje · Juli 18, 2016

      Lah, ga ada ya?

      • titantitin · Juli 18, 2016

        ah, gitu dowang, mana yg lainnya :))

      • Enje · Juli 18, 2016

        Sepanjang jalan ga mikirin foro. Sampe puncak aja sdh seneng bgt. Lagian tampang kucel, baju dekil. Gak fotoable bgt hehe

      • titantitin · Juli 18, 2016

        πŸ˜€

        itu fotoable anak gunung berati hehe

      • Enje · Juli 18, 2016

        oiya ya, standarnya sdh nurun klw sdh di gunung πŸ˜€

      • titantitin · Juli 18, 2016

        wkwkw πŸ˜€

  2. ardiologi · Juli 18, 2016

    wuih jalur linggarjati.. butuh dengkul yang “racing” tuh
    #pengalaman

    • Enje · Juli 18, 2016

      Nyahahaaa racing. Iya betul. Dengkul sy kuat nanjak gak kuat turun. Wkwkkkk

      • ardiologi · Juli 18, 2016

        bisa gitu ya?
        ga kuat turun… πŸ˜…

        kenapa pas di cibunar ga nanjak lagi aja tektok ke puncak?πŸ˜‚

      • Enje · Juli 18, 2016

        Hoiyaya, kan cm bisa nanjak yak. Udah tinggal aja di puncak selamanya. Jd kuncen. Wkwkwkk

  3. Ping-balik: Nubie Naik Gunung Ceremai (3) | enjeklopedia
  4. Ping-balik: Nubie Naik Gunung Ceremai (1) | enjeklopedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s