Belajar Menikmati Hidup

Gue punya seorang teman yang hidupnya ngaliiir banget. Walau secara ekonomi gue tebak-tebak dan yakin banget doi agak kesusahan, tapi ya itu. Hidupnya ngalir aja.

Buktinya walau kadang ngeluh gak punya uang hatta untuk makan sehari-hari, doi masih sehat wal ‘afiat, tuh. Happy, malah!

Pernah satu kali, sapu untuk menyapu kamar kami sudah rusak total, sementara lantai sudah super nggak enak untuk diinjak. Gue yang cuma mampu berencana untuk membelinya esok hari, doi malah sebaliknya. Nggak lama doi masuk dari pintu belakang sambil bawa sapu dapur dan gunting.

Tau apa yang dilakuin? Geser. Gue bilang, otaknya sudah geser! :p Jadi di belakang rumah doi guntingin tuh ujung-ujung sapu yang banyak kotorannya, biar bisa dipakai untuk nyapu kamar. Wkwkkk.

Atau pernah juga, pengait pintu kamar mandi kami sudah berminggu-hampir copot tapi nggak ada satupun yang beraksi pinjam obeng ke empunya kontrakan buat kencengin bautnya.

Lah, beberapa hari lalu gue liat pengaitnya sudah tergantikan sama paku yang digantung dengan tali berwarna abu-abu. Setelah gue konfirmasi ke yang lain, betullah, doi mengorbankan tali di jilbab Rabbani-nya demi pintu kamar mandi kami. Hahaaa.

Masih banyak aksi doi lainnya yang fix kami cEngin, “otak lo geser banget!”. Ya aksi cepat pangkas kepala saat virus linsa (tebak apa???) menggerayangi seluruh penghuni kontrakan, ya main asal gunting ujung kain tidur cuma demi menahan rambut (gantinya bando) dari wajah saat beauty class bersama kami, dll yang menurut kami out of the box banget, sih, Sist!

Sekarang, dari doi gue banyak belajar tentang seni menikmati tiap fase kehidupan. Saat dikasih kesempatan belajar kitab syarah matan jazari yang bukunya berteks full bahasa arab, pula dikelilingi teman-teman sekelas yang notabene jebolan pondok dan sudah hapal Qur’an sejak bertahun-tahun lalu… awalnya gue setreeeesss banget! Antara mau nyudahin semua yang sudah dimulai tapi sayang dengan ilmu yang ampun-ampun bagusnya. Gue setreeesss campur dilema (kemarin-kemarin).

Tapi dua pekan berjalan, gue mencoba untuk mensyukuri kesempatan yang gue bisa jamin nggak bakal datang dua kali ini dan sukses membuat banyak teman yang envy kareanya. Daripada setresss melulu, gue balikkan kondisinya demi menghibur hati dan menyemangati diri. Gue usahain untuk menikmati semuanya.

Sebagai yang bukan jebolan pondok, belajar bahasa Arab intensif juga sudah bertahun-tahun lalu, hapalan Qur’an masih segini-gini dan begini-begini aja… prestasi waybiyasah lah bisa duduk bareng mereka diajarin sama guru yang kece binggo! Usahanya aja yang mesti dilebihin lagi dan lagi. Prosesnya teteup sulit, tapi kalau hati sudah happy dan yakin, insyaAllah semangat untuk terus belajar terus berkobar. Yeah!

Makanya gue suka bingung sama orang yang nggak bisa nikmatin hidupnya. Selalu takut untuk melangkah dan mencoba sesuatu yang baru. Pesan gue cuma satu: cari teman yang kayak gue sebutin di atas, biar ketularan berani dan out of the box-nya. Wkwkkk!

Gubug Penceng

“Itu namanya Gubug Penceng, Thi.”
Kinanthi menengok langit, mengikuti arah telunjuk Ajuj.
“Sudah lihat? Ajuj menoleh ke Kinanthi yang masih tolah-toleh kebingungan. “itu lho, Thi. Itu yang bentuknya seperti layangan.”
Kinanthi mengangguk kemudian. Bibirnya tersenyum. Dia sudah menemukan rasi bintang yang dimaksud Ajuj.
“Nah, yang di bawah Gubug Penceng itu, ada galaksi rahasia.”
“Wong hitam begitu, Juj.”
“Ya. Itu karena kamu ndak bisa lihat. Sebenarnya ada galaksi besar sekali. Namanya… galaksi cinta.” Ajuj tersenyum. Memeriksa akibat dari kalimat terakhirnya pada diri temannya yang malu-malu itu.
“Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, kamu lihat saja ke langit sana, Thi. Cari Gubug Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat. Namanya galaksi cinta. Aku ada di situ.”
***
Mungkin ini yang namanya gila gara-gara kisah fiksi. Bingung tapi happy. Hihi…

Setelah dapat info perihal akan ramainya langit malam ini dengan salah satu mahluk ciptaan Ilahi (bintang gemintang), gue bertekad untuk ikut serta dalam memadamkan lampu dari pukul 20-21.

Nggak muluk-muluk mau liat aneka bentuk rasi bintang, yang jujur baru gue googling tadi sore alias masih b*go dengan dunia perbintangan. Tujuan gue cuma satu: cari rasi Gubug Penceng aka rasi crux aka rasi layang-layang. Sudah, itu aja.

Pukul 19.45 gue mulai matikan lampu, langit masih tampak hitam tapi cerah dengan bintang-bintang yang masih buram (yaiyalah, yang matiin lampu cuma satu rumah. Ya nggak ngefek ceunah!). Sekitar pukul 8 gue pun berjalan sedikit ke empang besar dekat rumah tempat pemancingan yang biasanya emang minim cahaya.

Yap, beneran aja. Langit malam ini INDAAAH BANGETTT! Bulan di awal Dzulqo’dah yang masih berbentuk sabit, nmmalam ini ditemani ratusan atau mungkin ribuan atau mungkin jutaan bintang di sisi timur-selatan-barat. Masya Allooooh, maa ajmala!

(backsoundnya lagu The Corrs: she’ll give you love love love… love in the milky way)

Ditemani keponakan yang sotoynya kebangetan, gue coba posisikan diri menghadap selatan yang betul lho paling rame (rame bintang, maksudnya) dibanding langit di utara yang masih sepiii sama bintang.

Menurut mbah Google, rasi layang-layang posisinya ada di langit selatan. Tepatnya di bawah rasi Centaurus yang merupakan rasi besar dengan bentuk yang agak susah diidentifikasi saking besarnya. Gue coba menerka-nerka, waiya susah banget diliat saking ramenya. Wkwkkk, sok-sokan, jeh!

Justru, yang bentuk mirip layang-layang diantara bintang nggak beraturan gue temuin di posisi 80 derajat saat mendongakkan kepala. Which means bukan di langit selatan.

Intinya, gagal deh cari rasi Gubug Penceng. Gagal pula cari galaksi kasat mata: Galaksi Cinta.

Ya gapapa. Bisa berdiri di bawah jutaan bintang aja sudah senang banget. Membawa lagi gue ke nostalgia jatuh bangun pasang surutnya semangat menaklukkan gunung Ciremai, kemarin.

Aaakkk, gara-gara kisah Ajuj Kinanthi jadi penasaran sama dunia perbintangan. Gara-gara bintang gemintang jadi pengen naik gunung lagi! 😀

(backsoundnya lagu Avril: isn’t anyone trying yo find me? Won’t somebody come take me to… mountain?) wkwkkk, maksa.com!