Gubug Penceng

“Itu namanya Gubug Penceng, Thi.”
Kinanthi menengok langit, mengikuti arah telunjuk Ajuj.
“Sudah lihat? Ajuj menoleh ke Kinanthi yang masih tolah-toleh kebingungan. “itu lho, Thi. Itu yang bentuknya seperti layangan.”
Kinanthi mengangguk kemudian. Bibirnya tersenyum. Dia sudah menemukan rasi bintang yang dimaksud Ajuj.
“Nah, yang di bawah Gubug Penceng itu, ada galaksi rahasia.”
“Wong hitam begitu, Juj.”
“Ya. Itu karena kamu ndak bisa lihat. Sebenarnya ada galaksi besar sekali. Namanya… galaksi cinta.” Ajuj tersenyum. Memeriksa akibat dari kalimat terakhirnya pada diri temannya yang malu-malu itu.
“Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, kamu lihat saja ke langit sana, Thi. Cari Gubug Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat. Namanya galaksi cinta. Aku ada di situ.”
***
Mungkin ini yang namanya gila gara-gara kisah fiksi. Bingung tapi happy. Hihi…

Setelah dapat info perihal akan ramainya langit malam ini dengan salah satu mahluk ciptaan Ilahi (bintang gemintang), gue bertekad untuk ikut serta dalam memadamkan lampu dari pukul 20-21.

Nggak muluk-muluk mau liat aneka bentuk rasi bintang, yang jujur baru gue googling tadi sore alias masih b*go dengan dunia perbintangan. Tujuan gue cuma satu: cari rasi Gubug Penceng aka rasi crux aka rasi layang-layang. Sudah, itu aja.

Pukul 19.45 gue mulai matikan lampu, langit masih tampak hitam tapi cerah dengan bintang-bintang yang masih buram (yaiyalah, yang matiin lampu cuma satu rumah. Ya nggak ngefek ceunah!). Sekitar pukul 8 gue pun berjalan sedikit ke empang besar dekat rumah tempat pemancingan yang biasanya emang minim cahaya.

Yap, beneran aja. Langit malam ini INDAAAH BANGETTT! Bulan di awal Dzulqo’dah yang masih berbentuk sabit, nmmalam ini ditemani ratusan atau mungkin ribuan atau mungkin jutaan bintang di sisi timur-selatan-barat. Masya Allooooh, maa ajmala!

(backsoundnya lagu The Corrs: she’ll give you love love love… love in the milky way)

Ditemani keponakan yang sotoynya kebangetan, gue coba posisikan diri menghadap selatan yang betul lho paling rame (rame bintang, maksudnya) dibanding langit di utara yang masih sepiii sama bintang.

Menurut mbah Google, rasi layang-layang posisinya ada di langit selatan. Tepatnya di bawah rasi Centaurus yang merupakan rasi besar dengan bentuk yang agak susah diidentifikasi saking besarnya. Gue coba menerka-nerka, waiya susah banget diliat saking ramenya. Wkwkkk, sok-sokan, jeh!

Justru, yang bentuk mirip layang-layang diantara bintang nggak beraturan gue temuin di posisi 80 derajat saat mendongakkan kepala. Which means bukan di langit selatan.

Intinya, gagal deh cari rasi Gubug Penceng. Gagal pula cari galaksi kasat mata: Galaksi Cinta.

Ya gapapa. Bisa berdiri di bawah jutaan bintang aja sudah senang banget. Membawa lagi gue ke nostalgia jatuh bangun pasang surutnya semangat menaklukkan gunung Ciremai, kemarin.

Aaakkk, gara-gara kisah Ajuj Kinanthi jadi penasaran sama dunia perbintangan. Gara-gara bintang gemintang jadi pengen naik gunung lagi! 😀

(backsoundnya lagu Avril: isn’t anyone trying yo find me? Won’t somebody come take me to… mountain?) wkwkkk, maksa.com!

Iklan

6 comments

  1. ghozaliq · Agustus 6, 2016

    pake aplikasi stelarium kak, sangat rekomen buat mengenali bintang-bintang secara “real time” 😀

    • Enje · Agustus 7, 2016

      Iyaaa. Td nemu semalam pas googling lg. Tp blm donlot wokey thx infonya yaaa 🙂

  2. titintitan · Agustus 6, 2016

    titin baru2 nyadar di bandung susah banget liat bintang. pdhl di kebumen mah tiap malem liat rasi2 itu.

    layang2 paling gampang dicari, 😀

    • Enje · Agustus 7, 2016

      Aq nemu blog, di bandung paling enak liat blog di saung ujo ke atasa lagi. Bukit moko ya klw ga salah? Di rmh masih ada banyak empang2 besar, gelap. Jd mayan bisa menikmati langit. Tapi dgn aroma khas empang yg kurang syedap. Wkwkkk

      • titintitan · Agustus 7, 2016

        Iyah, kn di moko itu bukit bintang :D.

        Dan baru ngeuh, emg bintang g bs dilihat klo byk cahaya?

        Kirain langit berpolusi 😀

      • Enje · Agustus 7, 2016

        Jadi pengen ke Moko. Heheee. Ajak2 mbak klw ke Moko. Wkwkkk.

        Yg aq baca sig klw banyak polusi cahaya jd ga keliatan. Iya, polusi udara jg ngaruh kayaknya. Tapi rumahnya kurang apa coba polusi udaranya. Pinggir jakarta booo’! 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s