Steik Daging Cincang

Salah satu yang mesti disyukuri dengan adanya momen idul adha yakni… gue jadi betah di dapur! Ini bukan pencitraan, soalnya ke dapur yang betul-betul ngolah bumbu ya cuma setahun sekali. Di hari biasa… lagi-lagi tumis, tumis lagi tumis lagi. *Arafah SUCA mode ON.

Idul adha tahun ini gue coba bereksprimen ngolah daging sapi dari resep Dapur Ummi di majalah Ummi yang ada cerpen gue-nya. Wkwkkk, maksudnya edisi September 2016. Judulnya: Steik Daging Cincang Karamel Barbeku.

Pada kenyataannya banyak bumbu yang disesuaikan. Mungkin judul tepatnya: Steik Daging Iris Tipis Saus Pedas Manis Gula Jawa. Hehe, nggak kenapa namanya ndeso, yang penting kata kakak gue: ENAKKK!

Kali aja ada yang mau coba di rumahnya. Ini gue cantumin resepnya yaaa…

Steik
-250 gr daging sapi (gue potong kecil2, rebus sebentar)
-1 lembar roti tawar (nggak punya, gue pakainya roti yang untuk bikin hot dog)
-30 ml susu cair
-50 gr bawang bombay, cincang
-1 butir telur ayam
-1 sdt kaldu bubuk (nggak usah)
-1/2 sdt garam
-1/2 sdt lada (gue pakai yang bubuk 1 sachet)
-1/4 sdt pala bubuk (gue pakai pala bulat, tumbuk 1/8nya)
-3 sdm margarin

Saus:
-3 sdm margarin
-2 sdm gula palem (gue pakai gula Jawa 1/2 lingkaran, iris)
-50 gr bawang bombay, cincang
-6 sdm saus barbeku (nggak nemu, gue pakai saus pedas manis)
-2 sdm kecap manis (gue cuma 1 sdm)
-250 ml air (gue pakai air kaldu dari rebusan daging)
-2 sdm tepung maizena (gue cuma 1 sdm)
-1/2 sdt lada bubuk
-1/2 sdt lada hitam (nggak nemu, gue nggak pakai)

Pelengkap:
-Rebusan wortel, buncis, brokoli (gue nggak pakai brokoli)
-Kentang panggang (gue cuma digoreng pakai mentega)

Cara membuat:
1. Campur rata semua bahan steik. Bagi adonan menjadi 3 bagian, bentuk bulat pipih setebal 1 cm (ini mah suka2, kalau gue sih dibagi 6 bagian biar jadinya banyak :p)
2. Panaskan margarin di atas teflon, panggang daging satu persatu, tutup. Masak hingga kedua sisi daging matang dengan rata. Angkat. Sisihkan.
3. Saus: panaskan margarin dan gula palem (gula Jawa) hingga larut. Tambahkan bawang bombay, tumis hingga harum. Masukkan saus barbeku (saus pedas manis), tambahkan air (air kaldu), kecap manis, garam, lada. Masak hingga mendidih. Sebelum diangkat, kentalkan dengan larutan maizena.
4. Sajikan steik dengan saus dan pelengkap.

Sudah begitu aja. Gampang banget, kan? Ayooo coba dibuat! ๐Ÿ™‚

image

Nggak kalah kok sama steik di WS ๐Ÿ˜€

Iklan

Sayap yang Tak Boleh Patah

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan aku berikan?”. Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. ~Anis Matta

Cinta Binta…

Allah kadang suka ngajak bercanda, iya nggak sih? Duluuu banget ada kali 1.5 tahun yang lalu, pasca selesaiin naskah buku pertama gue kalau nggak salah. Alhamdulillah semangat buat nulis masih sisa remah-remahnya.

Bosan berkutat dengan tulisan non-fiksi, gue iseng-iseng nulis empat cerpen (iseng aja sampai empat?! :p) lanjut dikirim ke beberapa majalah dengan aneka genre. Mulai genre yang nyastra abisss (Horison),  yang anak remaja cowok banget (Hai), yang remaja cewek banget (Kawanku), sampai yang ibu-ibu muda banget (Ummi).

Sebulan dua bulan tiga bulan gue tunggu-tunggu, satupun nggak ada yang kasih kabar perihal nasib cerpen gue. Putus asa, sempat gue tanamkan dalam diri: sudahlah, Enje, bakat lo emang bukan nulis cerpen!

Sampai Agustus kemarin… nggak ada hujan nggak ada angin, dihubungin sekretaris redaksi majalah Ummi, kalau cerpen yang gue kirim ke mereka bakal dimuat September ini. Weeew, beneran gue sudah lupa banget bahkan pernah nulis cerpen dengan judul apa kirim tanggal berapa. Pun sudah dikasih tau judulnya, masih nggak kebayang itu ceritanya tentang apa. Makanya perlu ngubek-ngubek gmail dulu buat kembaliin memori pernah nulis cerpen dengan judul Cinta Binta (CB). Wkwkkk.

Jangan ge-er. Kali ini gue nggak bakal pejeng cerpennya. Biar kalian penasaran, majalah Ummi edisi bulan ini yang covernya Om ganteng Adrian Maulana pun laku keras, besok-besok gue diminta nulis cerpen lagi sama redaksi Ummi. Hehe, mimpi kali yeee???

Gue cuma mau kasih tau, betapa cara paling mudah menulis ya emang dengan banyak baca. Apalagi kalau mau menulis kisah fiksi, ya kudu mau dengan senang hati baca cerita-cerita karya penulis andal.

Gue jujur waktu nulis itu baru aja selesai baca novel-nya Mbak Ifa Avianti yang judul-nya “Home”. Dari situ gue dapet banget gaya nulis yang bikin gue enjoy untuk cerpen CB. Girly-girly gimana gitu. Sayang aja sudah sedikit diedit sama orang redaksi. Hihi.

Kalau untuk ide cerita gue dapat inspirasi dari bukunya Mas Tasaro GK. Di buku yang kalau nggak salah judulnya “Galaksi Kinanthi” itu ada quote bagus yang terngiang-ngiang terus: Suatu hari mencintai adalah memutar hari tanpa orang yang kau cintai. Sebab dengan atau tanpa seseorang yang kau kasihi, hidup harus tetap dijalani.

Ahelah, sedap banget kan qoute-nyaaa? ๐Ÿ˜€

Jadilah gue kepikiran tentang tema tetap bersyukur walau mesti hidup tanpa kehadiran seseorang yang kita cintai (dalam cerpen ini konteksnya ada dua: anak dan suami).

Penuturannya gue buat dari tiap tokohnya. Ada kalanya gue jadi si Binta, suaminya, anaknya, sekretarisnya. Model menclok-menclok ini seriusan ala-ala mba Iva banget. Wkwkkk, nggak papa ya pakai rumus ATM. Amati Tiru Modifikasi. Yang penting bukan plagiat. Hehe.

Dan yang nggak kalah penting juga adalah penamaan tokoh-tokohnya. Nama Binta gue pinjam dari nama teman ngaji. Dari pertama kali kenalan gue sudah sukaaa banget dengan namanya yang unik dan janji bakal gue jadiin nama tokoh kalau gue buat cerpen kelak.

Kenapa nama teman gue itu Binta, bukan Bintang? Dari pertanyaan itu muncullah ide nama-nama tokoh lain yang gue ambil dari nama benda-benda langit. Ini juga sama, dapat inspirasi dari judul tiap bab di buku “Galaksi Kinanthi” punya Mas Tasaro GK, yang dia kasih judul dengan nama-nama rasi bintang.

Btw siapa aja nama-nama tokoh di cerpen Cinta Binta? Cari jawabannya di majalah Ummi edisi September 2016. Tema bulan ini keceh beut lho… Haji dan Umroh di Usia Muda. Wow! ๐Ÿ˜€

image

Ilustrasinya keren!

Bahagia Itu Sederhana

Nggak salah deh kalau Allah sebutย  anak-anak sebagai satu dari kesenangan dunia yang di Qur’an biasa disandingkan dengan kataย  wanita, harta, emas, perak, kuda-kuda gagah. Beberapa hari ini saat gue lagi klimaksnya capek, obatnya ya interaksi sama anak-anak. Perlu diperjelas: anak orang, tepatnya.

Jadi waktu itikaf di masjid al-Hikmah Ramadhan kemarin, gue kenalan sama dua anak kecil kakak beradik, namanya Sarah dan Mamat. Beberapa kali tegur sapa, mereka selalu lupa nama gue yang kayaknya emang susah untuk diingat sama anak kecil. Mengingat huruf konsonan bertemu langsung dengan huruf konsonan. E-N-J-E.

Akhirnya gue punya ide beliin mereka wafer coklat, gue kasih ke mereka sambil memberi tau kembali untuk ke sekian kali nama gue. Mujarab! Besok-besoknya sampai malam terakhir kami bertemu di momen itikaf, keduanya jadi hapal nama gue. Wkwkkk.

Nah, beberapa hari belakangan gue ketemu lagi dengan si Sarah di sekolahnya yang bersebelahan dengan tempat gue ngajar. Saat diburu waktu campur capek melanda, dari seberang jalan doi teriak-teriak sambil lambai-lambai tangan dan meneriakkan nama gue, “Kakak Enjeee… Kakak Enjeee…”

Gue samperin lah, “Wow, kamu masih ingat nama aku??”

Katanya dengan mata berbinar, “Iya, donk, kan aku inget-inget terus nama Kakak…” Uuu co cwiiit!

Tadi juga sama, saat di jalan kami berpapasan, dua kakak beradik yang lagi digandeng ibunya di seberang jalan sudah teriak-teriak panggil nama gue. Wkwkkk, antara bahagia dan nggak enak sama ibunya bercampur jadi satu.

Belum lagi di tempat gue gantiin teman ngajar. Anak-anaknya ampuh banget jadi pelepas penat dan capek. Ada si Wanti anak kecil yang sering melempar senyum ke arah gue dengan bibirnya yang mungil, Muluk yang selalu siapin meja buat gue, Shidqi yang makin dipuji makin bagus gambarnya.

Alhamdulillah, ini rejeki dari Allah. Nggak usah jauh-jauh cari kebahagiaan. ๐Ÿ˜€