Ayat-ayat Cinta 2… Keren!

Mungkin ada sebagian orang yang mencibir: para penikmat novel roman adalah mereka yang hidupnya cuma dalam alam khayalan, jiwanya menye-menye, cemen, dll! Ya gak kenapa, karena tiap orang punya hak untuk memilah dan menentukan buku bacaan sesuai seleranya. Betuuul?!!!

Di tengah riuh bin gaduhnya seluruh sosmed terkait isu penistaan agama yang dilakukan si Bapak Gubernur, gue memilih Ayat-ayat Cinta karya Kang Abik sebagai “pelarian” beberapa hari ini.

Selama sebulanan ini Allah perkenankan gue bertemu dengan ayat-ayat dan buku-buku yang berhubungan dengan isu di atas. GeEr-nya gue, ini semacam petunjuk dari-Nya gimana seharusnya menyikapi huru hara yang ada. Ceileh bahasanya!

Setelah “tertawan” beberapa pekan dengan surat Al Anfal dan At Taubah, menemukan buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim di rak seorang teman, lah sekarang dikasih secara cuma-cuma novel Ayat-ayat Cinta 2. Huraaay, rejeki anak solehah!

Betullah endorse yang ditulis Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Waketum MUI), yang ditampilkan di sampul novel AAC 2 ini, bahwa dianya bukan sekadar novel tapi sebuah cita-cita dan pemikiran besar. Yak, saya setuju sedelapan sesembilan sesepuluh sama bapak!

Kalau selama ini kalian menganggap Fahri dalam AAC keterlaluan melangitnya dan terkesan utopis, percaya deh… Sesungguhnya ada hal lain yang lebih penting dan genting yang mau disampaikan kang Abik melalui si tokoh utama.

Gimana… kalau kitalah yang menjadi si Fahri? Seorang muslim, cinta ilmu pengetahuan, hubungan dengan Tuhan dan kalam-Nya tak berjarak, akademis dan bisnis berjalan manis hingga buahnya dinikmati orang-orang sekitar kita? Gimana gimana gimana, setuju nggak?

Soalnya urgent banget, Bro! Kita masuk zaman di mana indahnya Islam tertutupi buruknya akhlak para penganutnya. Hiks, jangan-jangan kita jadi satu di antara yang merusak indahnya Islam?😐. Jadi, mari kita banyak-banyak berkaca dari si tokoh utama, gimana seharusnya menjadi seorang muslim kaffah.

Dari nyaris 700 halaman, kurleb cuma 1/3 yang menceritakan kisah cinta-cintaan. 2/3 nya full menampilkan Fahri sebagai sosok muslim yang wajib banget kita teladani. Duren sawit aka duda keren sarang duit (kaya, maksudnya :p), tamatan S1 Mesir S2 Pakistan S3 Jerman, PENGEMBAN 7 SANAD BACAAN QURAN, bisnisman, sedekah nggak pernah tanggung-tanggung tanpa pandang bulu pula. Kan, keren!

Nggak, gue nggak akan membeber ringkasan cerita tentang kehidupan Fahri dan Aisha pasca pernikahannya. Karena gue yakin sudah banyak bertebaran resensinya di jagat maya. Google pliss, hehe.

Tapi di antara hikmah yang banyak bertebaran di novel ini, ada satu yang paling menyihir karena pas dengan realita yang ada.

Jadi, diceritakan Fahri diundang sebagai pembicara dalam debat bergengsi yang diadakan di The Oxford Union mengkritisi pemikiran seorang cendikiawan Ibnu ‘Arabi.

Pembicara pertama menyampaikan pemikirannya bahwa semua agama adalah sama, tujuannya pun sama yakni Tuhan. Sebaliknya pembicara ke-dua mengatakan bahwa agama itu nggak penting. Karena tanpanya manusia sudah otomatis nggak saling membedakan hingga dunia ini akan terasa damai.

Fix banget, kita ummat Islam sudah banyak yang terjangkit virus ini. Islam sih, tapi mellihat saudaranya turun di jalan menuntut keadilan hukum kepada si penista ayat suci kita malah mencibir “bikin rusuh aja!”. Islam sih, tapi tutur kata dan status sosmednya jauh dari nilau-nilai Islam. Hiks, kita kah salah satunya?

Kalau iya, ungkapan Fahri dalam debat bergengsi itu mungkin bisa jadi bahan renungan:
“Menganggap sama semua agama sangat membahayakan ummat manusia. Sebab pada dasarnya, agama-agama itu memang berbeda. Biarkanlah apa adanya, karena secara natural memang berbeda. Dan kedamaian serta keharmonisan tetap bisa kita perjuangkan dan kita hadirkan dalam perbedaan-perbedaan itu. Justru itu akan terasa sangat indah.

Kita tidak perlu memerkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu, adalah membangun kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk agama harusmenghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligius-religiusnya, dan sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka menjadu bersih. Lalu mereka hendaknya beragama secara dewasa dan memandang agama orang lain juga secara dewasa. Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun.” hlm. 574

“Sedang meniadakan agama adalah meniadakan Tuhan. Atheisme. Ketika agama ditiadakan, tragedi kemanusiaan yang tak bisa dielakkan akan terjadi. Sejarah mencatat itu.

Agama menjadi pedoman hidup bagi manusia. Menjadi aturan, hukum, dan norma bagi kehidupan umat manusia. Agar satu sama lain tidak bertabrakan. Agar satu sama lain bisa benar-benar hidup sebagai manusia, bukan sebagai binatang di rimba raya.” hlm. 578-581

Ah, indah banget, kan?!
Belum lagi studi literatur yang keren abis all bout UK dan kehidupan kelas atas orang Inggris. Plus mengangkat juga tema kemanusiaan di Palestina. Boleh lah gue kasih 4.5 skala 1-5 untuk novel AAC ini.

Good job, kang Abik! Insya Allah jadi amal jariyah. Buat kalian, apa nggak penasaran? Ayolah dibaca!🙂

image

2 comments

  1. Afika AR · 21 Days Ago

    Jadi pengen bacaa

    • Enje · 21 Days Ago

      Bacalah Fik…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s