Sehidup Sesurga Se-MaxTea

Tidaaakkk… 2016 sudah hampir habis dan blog gue sepi banget! Oke, di penghujung tahun ini gue mau update blog terakhirΒ  tentanggg… teh tarik! πŸ˜€

Jadi kalau dibandingin sama kopi sachet, gue lebih suka teh tarik cap Max Tea, dah! Soalnya isinya lebih banyak dan aromanya bikin nagih. Boss Max Tea mesti tau nih, betapa gue sudah sukses ‘meracuni’ beberapa teman untuk beralih dari kopi sachet ke Max Tea. *duduk syantik nunggu kiriman Max Tea 3 bal*

Salah satu yang berhasil gue racuni yakni seorang teman kost, blasteran Arab-Betawi-Padang yang baru lulus SMP tapi sudah berani ambil keputusan penting dalam hidup: nggak lanjut sekolah formal melainkan ngapal Qur’an sehari-harinya. Keren dah Sister satu ini!
Sayang aja orangnya agak-agak. Kalau gue biarpun fans garis unyu Max Tea, teteup masih bisa nahan diri buat nggak minum secara berlebihan. Lah dia… emang dasar koplak, bisa tuh minum Max Tea 3x/hari atau nggak seminggu berturut-turut gitu minumnya. Wkwkkk, wedannn, Sister!

Cuma yang gue suka dari dia, orangnya penghayal tingkat akhirat! Kalau lagi minum Max Tea bareng, obrolan kami pasti menembus batas hinggaΒ  ke kehidupan abadi a.k.a akhirat, yang kurleb begini isinya:
A: Kak, nanti kalau nggak ade gue di surga, cari gue ye!
E: Iye. Lu juga cariin gue ye?
A: Ntar kite minum Max Tea bareng. Kite minte sama Allah.
E: Berape gelas kite minte?
A: Bergalon-galon aje sampe kite puas.
E: Sip.
A: Kalo perlu, kite minte dibuatin kolem renang, airnya isi Max Tea.
E: Boleh, boleh. Ntar kite berenang bareng ye.
A: Mantap jiwa, Sister!

Hehe. Kami tau di surga ada kolam madu, kolam susu, bahkan kolam isi arak yang nggak bikin mabuk. Tapi kami nggak minta itu semua, nggak minta kopi Star*uck yang mihil, apalagi Luwak Coffee yang gelasnya bekas dipakai Lee Min Ho. Nggak. Kami cuma minta teh tarik cap Max Tea! πŸ˜€

Gue demen nih teman macam gini. Qona’ah, bisa diajak susah, hehe.

Alhamdulillah, ya Allah, 2016 ini dipertemukan dengan teman yang mengingatkan akan surga hingga kami semangat untuk memperbaiki diri. Semoga 2017 ditambah lagi teman-teman model begini: yang kalau dekat-dekat dengan mereka jadi kebayang-bayang surga. Aamiin.

Eh satu lagi deh, ya Allah. Semoga di 2017 dipertemukan dengan calon imam masa depan yang sama-sama doyan Max Tea selalu sabar membimbing sampai ke surga-Mu. *halah, ujung-ujungnya galau! XD

image

Surga duniaaa! πŸ˜€

Iklan

Asywak, Novel Karya Sayyid Quthb

1 hari 1 malam aja ternyata untuk menamatkan novel bergenre sastra setebal 162 halaman yang berjudul Duri Dalam Jiwa ini. Berat tapi ringan, ringan tapi… adalah hikmahnya.

Fyi, novel ini karya tokoh pergerakan Mesir yang emang background-nya sastrawan. Nggak heran sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, beliau sudah menelurkan tiga karya sastra yang salah satunya novel yang baru selesai gue baca ini (judu aslinya: Asywak).

Awal nemu buku ini di rak perpus kampus dekat kost-an, excited banget ya karena liat nama pengarangnya: Sayyid Quthb, yang identik banget sebagai Mufasir fenomenal dengan kitab tafsirnya yang bergenre sastra: Fi Zhilalil Qur’an. Sampai gue mesti mengonfirmasi ke penjaga perpus berkali-kali: apa iya ini novel beliau? Apa iya ini novel beliau, masa sih? Apa iya ini novel beliau, seriusss? Wkwkkk #genggesss.

Berkat kegenggesan itulah, mas penjaganya rela minjamin novel ini tanpa gue harus nyerahin ktp sebagai jaminan! *pelajaran moralΒ  nomor 212: berakrab-akrablah dengan penjaga perpus, hehe.

Kisahnya langsung menyentak pembaca dengan pengakuan Samiroh kepada calon suaminya di hari pertunangan mereka bahwa dirinya sudah nggak lagi perawan. Sebagai laki-laki terpandang se-seantero Kairo, Sami merasa telah dibohongi setahun belakangan oleh gadisnya yang berpaut 10 tahun lebih muda darinya.

Lebih menghentak lagi pas Sami justru menawarkan Samiroh untuk menikah saja dengan Dlia’, laki-laki yang pernah menggaulinya dulu. Jederrr!

Blablabla… walaupun endingnya Samiroh nggak jadi nikah baik dengan Sami dan Dlia’, penulisnya menggambarkan betapa tokoh utama seperti yang dinyanyikan Ruth Sahanaya di iklan sabun colek: ternyata aku masih cinta, cinta sama kamu… Hehe. Nggak bisa move on dari Samiroh, gitu!

Alurnya lambat, penuturannya kurang luwes (karena terjemahan kali yeee?), tapi banyak penggunaan balaghoh di dalamnya.

Sejujurnya gue kurang bisa menikmati (lagi-lagi mungkin karena faktor terjemahan). Alhamdulillah hikmahnya ngena. Betapa perempuan diuji dengan kejujuran dan ‘kehormatannya’, laki-laki diuji dengan kesabaran dan kesetiaannya.

Udah gitu aja. Mari move on ke buku berikutnya! πŸ™‚

image

Mampang Movement

image

Bagai gelombang terus menerjang πŸ˜€

Semoga tulisan ini belum basi yaaa. Secara #aksisuperdamai212 di Monas sudah selesai dari dua hari yang lalu, sementara semangat nulis gue masih perlu dipompa pinjam pompaan si Lai tukang bengkel depan gang rumah. Oh, poor you, Enje! 😐

Cuma mau sharing pengalaman ikut aksi kemarin dimana gue ikut rombongan Mampang yang masya Allah sukses bikin haru biru huhuhu deh.

Jadi beberapa hari sebelum #aksi212, dapat kabar dari aktivis Prima Al Hikmah (semacam kumpulan pemuda masjidnya gitu deh) kalau mereka menyediakan bus untuk siapapun yang mau ikut aksi ke Monas. Ndilalahnya H-1 dapat kabar lagi kalau mereka batal menyediakan bus, melainkan akan long march Mampang-Monas (malu sama orang Ciamis, ceunah! :p). Wkwkkk, sempat ciyut juga pas dapat beritanya. Mau mundur dan ikut rombongan lain aje deh gueee!

Berhubung konon katanya Mampang daerah religius, banyak yang menyambut positif keputusan ini. Di hari H, anak SMP sampai kakek nenek muda bercucu satu dua ikut kumpul dari pagi buta buat long march. Ayey!

Kurleb pukul 5.30, para peserta long march berkumpul di depan masjid Al Hikmah. Setelah tiap kami dibekali dengan perbekalan untuk sarapan dan makan siang, acara dibuka dengan tasmi’ oleh salah satu imam muda masjid dan orasi dari ustadz Abdul Muiz. Pukul 6.30 sekira 200an orang mulai berjalan mengular  membuntuti mobil sound.

Namanya perjuangan pasti ada ada ujiannya. Ujian pertama muncul saat baru sampai masjid bang haji Rhoma Irama di daerah Pondok Jaya (200 meter dari starting point), kami diguyur gerimis rapat. Gue yang tadinya semangat bada diguyur ceramah Ustadz, sedikit nggak semangat karena baju sudah lepek pek pek pek diguyur hujan!

Satu hal yang terus memekarkan bunga-bunga semangat, yakni semakin bertambahnya jumlah peserta yang ikut bergabung dalam barisan kami mulai dari jalan Buncit raya. Mereka ini kebanyakan emang orang-orang yang mau ke Monas tapi lagi neduh menunggu hujan reda dan yang lagi pada nunggu bis menuju ke sana. Mungkin mereka juga mau merasakan gimana rasanya long march walaupun nggak sejauh sodara/i yang dari Ciamis. Sepuluh kilo, mayan deh yeee!

Jumlah peserta di belakang kami terus nggak terbendung sampai di fly over Kuningan menuju Menteng. Pas gue tengok ke belakang, barisan seperti nggak berujung. Masya Allah! Belum lagi support dari pengguna jalan lain yang kami lalui. Baik acungan jempol, makanan, minuman, bahkan uang mereka berikan untuk berlangsungnya aksi umat Islam terbesar sepanjang sejarah ini. Maa aa’zhoma!

Rombongan sempat terhenti selama 30 menit karena ternyata jalur yang hendak kami lalui (Gambir) sudah padat. Akhirnya korlap memutuskan untuk mengubah rute menuju Patung Kuda. Mobil sound diparkir di masjid Cut Meutia. Itupun kami harus berjalan satu jalur di antara mobil yang sudah terparkir di sepanjang jalan raya saking mendadak penuhnya Jakarta Kota.

Kurleb pukul 11.30 kami sampai di samping Wisma Mandiri. Sudah mentok, akses menuju Monas tertutup oleh jutaan manusia.  Peserta akhwat dibuatkan border dari tali untuk membatasi dari jama’ah ikhwan biar nggak campur baur saat sholat.

Cuaca sempat cerah beberapa jeda, sampai adzan berkumandang hujanpun mulai turun. Kalau dipikir, Allah memang Maha Baik. Can you imagine 7juta orang tumplek di jalan, kalau nggak ada hujan bisa dipastikan banyak yang kewalahan bahkan pingsan, kan? Alhamdulillah, ini pertama kalinya ngerasain sholat dan doa di jalanan, hari Jumat, diguyur hujan. Gemuruh harunya berlipat-lipat, apalagi berkahnya, apalagi pengijabahan doanya??? InsyaAllah! πŸ™‚

Selesai sholat kami, rombongan masjid Al Hikmah, memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang awalnya rencana ke Monas. Tapi massa sudah pada konvoy meninggalkan monas menuju budaran HI sekalian berjalan pulang. Sesuai janji akan langsung bubar pasca Jumatan. Meleburlah kami bersama mereka.

Hujan masih rintik-rintik rapat, gelombang manusia kian nggak berujung, rombongan kami akhwatnya diborder dengan tali rapia dan ikhwan di kiri kanan. Alhamdulillah rapiii. Sampai membuat banyak orang bertanya-tanya, dari manakah rombongan kami berasal? Dengan bangga kami jawab: jama’ah masjid Al Hikmah, Pak/Bu/Mas/Mbak! πŸ™‚

Guys, sesuai namanya alhamdulillah #aksisuperdamai212 beneran damai, rapi, tertib, dan bersih. Bolehlah kita bangga, bahwa ummat Islam Indonesia bukan buih di lautan apalagi sekumpulan binatang di kebun binatang seperti kata si Nganu. Ini bukti kecintaan kita terhadap agama, kitab-Nya, dan para ulama begitu besar.

Tapi PR yang menanti di depan sana masih banyak. Mereka para nyinyir’ers mungkin sedang menunggu-nunggu untuk melunturkan kebanggaan kita kemarin pada diri sendiri. Prilaku kita untuk selalu menjaga kebersihan, santun terhadap lawan, selow di sosmed mesti kita jaga banget-banget. Biar celah itu tertutup rapat.

Apalagi semangat mendirikan sholat berjama’ah dan mengakrabkan diri terus dengan kitab suci. Harus meningkat daripada sebelum aksi kemarin, biar ada atsarnya kehadiran kita di sana. Setuju, nggak? πŸ˜‰

image

Komuk dah gue, wkwkkk!