Asywak, Novel Karya Sayyid Quthb

1 hari 1 malam aja ternyata untuk menamatkan novel bergenre sastra setebal 162 halaman yang berjudul Duri Dalam Jiwa ini. Berat tapi ringan, ringan tapi… adalah hikmahnya.

Fyi, novel ini karya tokoh pergerakan Mesir yang emang background-nya sastrawan. Nggak heran sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, beliau sudah menelurkan tiga karya sastra yang salah satunya novel yang baru selesai gue baca ini (judu aslinya: Asywak).

Awal nemu buku ini di rak perpus kampus dekat kost-an, excited banget ya karena liat nama pengarangnya: Sayyid Quthb, yang identik banget sebagai Mufasir fenomenal dengan kitab tafsirnya yang bergenre sastra: Fi Zhilalil Qur’an. Sampai gue mesti mengonfirmasi ke penjaga perpus berkali-kali: apa iya ini novel beliau? Apa iya ini novel beliau, masa sih? Apa iya ini novel beliau, seriusss? Wkwkkk #genggesss.

Berkat kegenggesan itulah, mas penjaganya rela minjamin novel ini tanpa gue harus nyerahin ktp sebagai jaminan! *pelajaran moralΒ  nomor 212: berakrab-akrablah dengan penjaga perpus, hehe.

Kisahnya langsung menyentak pembaca dengan pengakuan Samiroh kepada calon suaminya di hari pertunangan mereka bahwa dirinya sudah nggak lagi perawan. Sebagai laki-laki terpandang se-seantero Kairo, Sami merasa telah dibohongi setahun belakangan oleh gadisnya yang berpaut 10 tahun lebih muda darinya.

Lebih menghentak lagi pas Sami justru menawarkan Samiroh untuk menikah saja dengan Dlia’, laki-laki yang pernah menggaulinya dulu. Jederrr!

Blablabla… walaupun endingnya Samiroh nggak jadi nikah baik dengan Sami dan Dlia’, penulisnya menggambarkan betapa tokoh utama seperti yang dinyanyikan Ruth Sahanaya di iklan sabun colek: ternyata aku masih cinta, cinta sama kamu… Hehe. Nggak bisa move on dari Samiroh, gitu!

Alurnya lambat, penuturannya kurang luwes (karena terjemahan kali yeee?), tapi banyak penggunaan balaghoh di dalamnya.

Sejujurnya gue kurang bisa menikmati (lagi-lagi mungkin karena faktor terjemahan). Alhamdulillah hikmahnya ngena. Betapa perempuan diuji dengan kejujuran dan ‘kehormatannya’, laki-laki diuji dengan kesabaran dan kesetiaannya.

Udah gitu aja. Mari move on ke buku berikutnya! πŸ™‚

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s