Ngilmu Sama Mbakyu

Har-hari terasa hampa ya kalau gak bisa update blog dari hape? Alhamdulillah, per hari ini aplikasi wordpress gue sudah aktif lagi. Yeay!

Beneran rejeki anak solehah ini namanya. Soalnya dari kapan tau login, selaluuu gagal. Nah, setelah berpusing-pusing ria dengan naskah orang lain, kayak emang disuruh bersenang-senang dengan tulisan sendiri deh, walau seringan randomnya. Makasih, ya Allaaah. πŸ™‚

Beberapa hari yang lalu, kesampaian juga gue ngobrol syantik sama seorang Mbakyu yang di lingkungan kami terkenal dengan ilmu Qur’an-nya yang okeh banget. Sudah lama gue pengin ngobrol sama beliau sebetulnya. Sayang aja banyak qiila wa qoola tentang pribadi beliau yang super tegas kalau nggak boleh dibilang galak.

Dan, itulah tantangannya. Makin dibilang begini dan begitu, gue makin ngeyel. Gimana caranya gue jabanin deh supaya bisa ngobrol dan ‘nyuri’ ilmu dari beliau. 
Awal mulanya gue ngenalin diri pas papasan di lift sebuah perkantoran di bilangan Gatsu beberapa bulan lalu. Nggak nyangka, sampai searang ternyata beliau masih inget nama gue. Buktinya, pas ada kesempatan ngobrol kemarin dia selalu mengakhiri wejangannya dengan kata “…, Nje.” Yesss!

Obrolan berdurasi satu jam itu rasanya berbobot banget. Bukan cuma ngobrol, tapi gue minta doi buat praktekin baca Qur’an. Fyi, beliau ini haus banget sama ilmu. Sudah melanglang buana cari guru bertahun-tahun, terakhir beliau habiskan waktu satu bulan selama Ramadhan kemarin buat ngilmu di Madinah. 

Gimana suka dukanya ngilmu ke sana kemari, doi beberin buat gue. Alhamdulillah, jadi makin semangat belajar dan lanjut kuliah, Ceuw! πŸ˜€

Dari sekian obrolan kami, satu yang paling berkesan waktu gue tanya: sebetulnya yang bener bacaan Qur’an yang mana, Zah?

Katanya, “Ya gak bisa gitu, Nje. Dia gurunya pake mazhab Suriah, guru kamu pake mazhab Sudan, guru saya pake mazhab Madinah. Ya gak nyambung kalau mau dicari yang paling benar. Walaupun saya lebih memilih yang paling dekat dengan tempat Qur’an turun. Sudah, kamu belajar aja yang bener sama guru kamu ya, Nje.”

Emang beda deh kalau orang berilmu. Lebih bijak, gak main menghakimi dan merasa paling benar. Istimewa!

Iklan

Single Parent

Gue kayak pernah cerita deh, tentang seorang kenalan yang memutuskan untuk mengurus sendiri dua anaknya sejak mereka masih di bangku SD, lantaran nggak mau dimadu sama suaminya.

Belum lama gue ketemu lagi dengan beliau. Lagi-lagi, ada yang bikin nyes di dada. Perih!

Waktu itu kami lagi janjian mau ketemu seorang teman. Pas dari jauh yang ditunggu sudah tampak, percakapan singkat itu terjadi.

Gue: si mbak itu awet muda banget ya. Ngiri, euy!
Teman: Iya. Masih pecicilan juga. Suka lupa umur. Hehe.
Gue: siapa yang nyangka anaknya sudah pada kuliah. Udah bukan kayak anak sama ibu. Keren!
Teman: itulah enaknya nikah muda, Mba. Kami sama-sama nikah muda. Bedanya, dia sukses, aku gagal. Hehe.
Gue: *speechless*

Di lain kesempatan, saat mengenalkan diri dengan orang baru, juga sama. Beliau selalu menekankan status ke-single parent-annya dengan lepasnya.

Orang baru: Saya X. Sudah berkeluarga. Punya anak dua.
Gue: Enje. Single.
Teman: Saya Y. Single parent.
Gue: *speechless lagi*

Kadang gue nggak habis pikir… perih di hati macam apa ya yang bisa membuat perempuan sampai segitu tegarnya? Menjadikan lukanya sebagai hal lumrah yang nggak minta diratapi, bisa senyum lepas menyoal statusnya sebagai seorang perempuan. Pun gue tau banget, kalau sudah kepanjangan obrolan kami, beliau bakal menitikkan air mata saking perihnya.

Hmmm, pasti perih yang berlipat-lipat ya? Banget, Enje!

Bukannya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Tapi, dipertemukan dengan orang-orang kayak gitu, gue jadi banyak bersyukur plus malu. Seberat-beratnya ujian gue, ternyata nggak ada apa-apanya dibanding beliau.

Ya Allah, doa hamba cuma satu. Semoga anak-anaknya jadi anak yang soleh dan solehah. Aamiin.

(Masih) Konspirasi Semesta

Nemu quote bagus dan pas sama foto πŸ˜€

“Sebab kesabaran memang tak boleh berdiri sendiri. Ia harus berkelindan dengan keyakinan walau sedikit. Meski kadang keyakinan itu buta dan di luar logika. Lagipula apa indahnya cinta bila ia bisa dijangkau oleh logika? Bukankah lukisan yang bernilai tinggi adalah lukisan yang tak terjelaskan di mana letak keindahannya?
~Azhar Nurun Ala

image

Studio: IKEA :p

Rindu

Kadang aku berpikir, perasaan rindu itu seperti hujan. Kita bisa menantinya reda, tapi tak bisa menghentikannya. Payung, jas hujan, atap rumah, adalah bukti bahwa manusia tak pernah menang dari hujan. Seperti halnya manusia tak pernah mampu mengalahkan perasaan rindu. Kecuali pura-pura.

~Laras (Konspirasi Semesta, Azhar Nurun Ala)

Terima Kasih, 28!

image

You rock! πŸ™‚

28 tahun yang lalu kurang 12 jam, lahir seorang anak yang nggak diingini oleh 6 kakak laki-lakinya. Sudah kebanyakan anak, kata si sulung. Hingga ia sempatΒ  mengancam ke ortunya, kalau anak yang akan lahir itu laki-laki lagi, harus dikasih ke orang lain. Alhamdulillah, yang lahir ternyata perempuan. Daaan, gue selamet! Wkwkkk.

Time flies, nggak terasa usia 28 sudah di penghujungnya. Walau sering ngaku ‘I’m ageless, sorry!!!’, sejujurnya gue menikmati tiap kejadian selama satu tahun belakangan. Ameizing!

Yang bikin remuk ada, yang bikin terpuruk juga sama. Tapi kayaknya nggak sebanding deh kalau dibanding dengan nikmat-Nya yang bertubi-tubi. Ya Allah…

Tadi sempat googling tentang the miracle of 28th. Ada penelitian yang menyebutkan, di Barat sana para ceweknya yang berusia 28 mengaku sedang berada di fase sematang-matang dan sedewasa-dewasanya. Oh damn, gue juga ngerasain hal yang sama! *ngaku2 :p

Etapi bener, lho. Di usia segini emosi lebih kejaga. Walau lebih cermat dalam bela-beli, teteup jatah buat ‘me time’ nggak boleh lupa, hehe. Juga ke hubungan sama lawan jenis, saat ada perasaan simpati yang berlebihan, nggak kayak sebelumnya. No more galau insya Allah. Ya ngapain juga ya, kalau mau serius ya nikah, nggak perlu cari jalan yang nggak ada berkahnya.

Badan yang sehat, kakak-kakak yang perhatian, jiwa yang terus menggelora, teman yang beraneka umurnya, kesempatan buat nimba ilmu dari mereka yang kompeten, dipercaya untuk jadi pemateri di beberapa acara, dan kesempatan jadi editor freelance di detik-detik terakhir 2016… aaak, terima kasih, Allah-kuuu T.T

Ya Allah, kalau boleh minta… kalau emang tahun ini belom juga Kau datangkan calon imam masa depan, tolong jangan cabut nikmat nimba ilmu seperti di usia 28 kemarin, yayayaaa…

Dear, 29 yang sebentar lagi menghampiri… kita sahabatan, ya! πŸ˜‰