Hilang dan Pulang

Kadang gue mikir, kata ‘kehilangan’ nggak selamanya menjadi perkara buruk. Soalnya Allah kasih kita pelajaran tentang kehilangan, supaya kita pulang pada-Nya.

Saat kehilangan seseorang/sesuatu, sebagian kita ada yang makin rajin berdekat-dekat pada Tuhan-nya. Dengan pulang menuju-Nya kita jadi sadar, semua yang di dunia ini cuma titipan. Nggak ada yang kekal.

Masih tentang hilang dan pulang. Waktu awal-awal kehilangan Mamak dua tahun lalu, gue sempat merasa nggak kuat berlama-lama tinggal di rumah beliau yang beberapa tahun belakangan hanya kami berdua yang menempati.

Tiap sudutnya punya cerita. Tiap pirantinya punya makna. Makanya, dua minggu setelah hari kehilangan gue putuskan untuk keluar dari sana dan hijrah mencari kost di selatan Jakarta. Seminggu sekali aja pulangnya.

Betul aja. Perlahan, rasa kehilangan itu tergantikan dengan aktivitas dan orang-orang baru. Juga, kepulangan yang cuma sekali seminggu membuat gue menikmati makna kata pulang. Pulang membuat gue senang.

Kalau dulu, pulang berarti disambut penuh suka cita oleh Mamak walau cuma dari atas kasur. Kini, pulang berarti mengenang kembali momen-momen hidup berdua Mamak. Nggak bikin sedih, melainkan ngangenin. Justru, seminggu nggak pulang malah suka bikin uring-uringan. 

Nah, ke depan kayaknya gue bakal kehilangan makna kata pulang karena satu dan lain hal, untuk kepentingan orang banyak. Walau masih ada rumah kakak-kakak yang ditawarkan untuk tempat pulang, tetap aja bukan itu makna kata pulang.

Baiklah. Kayaknya kehilangan kali ini mesti belajar untuk mengembakikan makna kata ‘pulang’ hanya pada-Nya. 

Dunia cuma persinggahan. Suka nggak suka kita mesti pulang ke kampung halaman yang sesungguhnya. Sukur-sukur dibangunin rumah kayak Asiyah istri Fir’aun di surga.
Rabbi ibni li ‘indaka baitan fi jannah. Aamiin. 

  

Iklan

Baldatun Thoyyibatun

Uploading…

Alhamdulillaaah… bertubi-tubi rasa syukur gue panjatkan kepada Allah SWT yang akhirnya menemukan teman gue dengan pasangan halalnya. Yeaaay!
Teman seperjuangan zaman masih semangat daftar PNS. Teman sepermalesan. Teman seperjorokan. Yang pasti, teman sepergalauan. Gue nggak nyangka Swas, lo laku juga, eh, nikah juga! Hehe.

Btw sebagai teman yang baik, gue datang jauh-jauh dari Mampang ke Ciledug ke nikahan teman gue itu. Nggak tau sudah berapa lama nggak datang ke nikahan orang dari akad-nya. Yang jelas, gue senang karena dapat ilmu yang mantab dari bapak penghulu.

Jadi kata si bapak yang gue taksir masih muda itu, nasehatin teman gue tentang pernikahan. Katanya:

“Nikah itu bukan perkara persatuan dua jiwa, dua keluarga. Tapi membangun keluarga, membangun masyarakat, membangun baldatun thoyyibatun. YANG SEMUANYA NGGAK AKAN TERWUJUD KECUALI DENGAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI.”

Manteb yaaa? Denger tuh Enje!  πŸ˜€

Yang Kucinta Tanah Airku

Lagi baca-baca ulang buku Arsitek Peradaban-nya Anis Matta, nemu paragrap syantik:

Yang tercinta tanah airku, engkaulah yang pertama kali menadah nurani kami.

Yang tercinta tanah airku, biarkan kami mencintaimu tanpa harus mempertuhankanmu . Biarkan kami menganggapmu sahabat sejati dalam kepesertaan kehidupan di alam raya. Jangan biarkan tembok ras atau pagar darah menghalangi kereta la ilaha illa llallah menyusuri padang hati manusia di atas punggungmu. Jangan biarkan nasionalisme menyekatmu dalam apa yang mereka sebut sebagai bangsa. Sebab negeri manusia yang sesungguhnya; ialah lembah iman tempat mereka membangun ‘jaringan hati’. 

Yang tercinta tanah airku, katakan kepada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian atau primordial; kata itu adalah burung hantu yang justru engkau terbangkan di langit hati kami, namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keislaman kami. Dan merpati Islam pun terbang tinggi membawa pesan kedatangan; kami kembali, o, yang tercinta tanah airku.

(bab Yang Kucinta Tanah airku, hlm 110-111).
Bagus ya? Ayo kobarkan semangat Indonesiaaa~~~

Garagara Sampah

Begini nih nasib perempuan dewasa (((dewasa))) yang masih single. Update status ada kata ‘laki2/pria/cowok’ dan ‘cinta’, pasti disangka galau. Ahelah, nggak asik!

 Jadi kemarin gue update status FB tentang beberapa laki-laki yang gue temui di aksi #112 di Istiqlal, yang peduli sama sampah pengunjung masjid yang berserakan di halaman masjid. Saat yang lain masa bodo dengan sampah yang mereka produksi apalah lagi dengan sampah orang lain, kan istimewa ya mereka yang masih peduli dengan urusan umat Islam Indonesia yang nggak kelar-kelar: kotor!
Gue update lah status tentang mereka dengan ending ‘Harapan itu masih ada!’. Yah, komennya kok nyerempet ke ‘sana’ ya? Antara doa, perasaan senasib dan dukungan moril ke gue semoga begini dan begitu. Hehe, lucu lucu lucu!

Mungkin ya, mungkin lho. Karena kata ‘laki2’ dan ‘harapan’. Jadi pada salah paham deh.

Oke, di blog ini gue mau klarifikasi. Status FB gue murni tentang Indonesia, bukan tentang jodoh apalagi nikah. Maksud endingnya adalah, masih banyak kok orang baik di Indonesia. Orang yang peduli sama masalah umat walau kerjanya nggak diekspos media. Masih ada harapan untuk negara kita bangkit dari keterpurukan yang nggak tau di mana ujungnya ini.

Kenapa pakai kata ‘laki2’ bukan ‘orang2’? Soalnya kalau ‘orang2’ itu jamak. Ada laki2 dan perempuan. Itu namanya gue ngomongin diri sendiri dooonk? Nanti hangus lah amalan gue. Wkwkkk. 

Ayo lah, nggak usah kebanyakan ngobrolin atau baca buku/artikel yang melulu ngebahas tentang nikah/jodoh, kecuali buat persiapan. Itu bukan buat digalauin, tapi dipraktekin! Masih banyak lho tema lain yang nggak kalah asik buat dibahas. Pendidikan, kesehatan, kebersihan, persatuan, toleransi yang benar, dll.

Jangan keseringan ikut arus utama di dunia maya. Kalau nggak kubu jodoh, kubu politik. Peduli itu wajib, grasa-grusu jangan. Aktif di dunia maya, tapi di dunia nyata NOL. Duh! 

Udah, intinya mari move on dari jadi orang kecil yang cuma mikirin diri sendiri, jadi orang besar yang gelisah kalau hidup cuma buat mikirin diri sendiri. Woy, serius amat ini curcolannya. Wkwkkk, mohon dimaafkan.