Menjadi Tuli

“Rijal, kadang kita perlu menjadi tuli. Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. Sebagian suara barangkali ada untuk kita dengar, sisanya ada untuk kita abaikan. Hidup kita nggak lama, kita nggak perlu habiskan waktu dan energi untuk lakukan hal-hal yang justru kontraproduktif dengan upaya menebar kebermanfaatan kita.”

~Laras di Buku “Tuhan Maha Romantis”, Azhar Nurun Ala.

Wahai Pemuda… Berolah Ragalah! 

Hehe. Dua judul postingan gue sok iye banget deh. Biarin! 

Masih tentang bersyukur. Alhamdulillah terlahir sebagai golongan darah O, yang konon jiwa olah raganya besar. Dan gue mengamini.

Betul banget. Gue selalu excited dengan hal yang berhubungan dengan olah tubuh. Seruuu! Yah walaupun susah istiqomahnya. Wkwk.

Berharapnya gue, dengan olah raga, selain menguapkan lemak juga menguapkan emosi negatif yang suka menghantui. Hihi.

Setelah tahun kemarin belajar istiqomah dengan olah raga jantung harian dan terhenti karena satu dan lain hal (baca: males 😅), sekarang belajar buat istiqomah dengan olah raga lari. 

Bukan karena olah raga lari lagi kekinian, lho. Tapi gue sukses dibuat iri dengan seorang murid yang sudah mampu lari 1 jam NON-STOP! Diperkenalkanlah gue dengan program lari.

Nama programnya “From Walking to Running”. Ini buat yang masih nubie di dunia lari macam gue. Jadi selama sebulan kita dilatih buat lari tapi diselingi dengan jalan. Nggak sampai setengah jam kok. Paling lama sehari 15-20 menit. Gampang! Nanti bulan ke-dua masuk program lari benerannya.

Alhamdulillah sudah hari ke-5. Kemarin sempat stop ikutin programnya dua hari karena lagi liburan. Eh tapi tetap olah raga kok, cuma nggak ikutin programnya. Di Puncak, boook! Nggak memungkinkan buat lari. Banyak tanjakannya, hehe halasan. 

Adakah yang suka lari juga? Sudah pada jago kah? Ayooo sharing! ☺

Wahai Pemuda… Berorganisasilah! 

Lagi. Masih tentang bersyukur. Salah satu yang gue syukuri di kehidupan ini adalah dicemplungkannya gue ke dalam organisasi sejak SMA. Nggak pernah kepikiran, gue yang dulunya pendiam bisa ikut organisasi hingga pelan-pelan jadi rame begini. Duileee! 😅

Buat siapapun terutama adek-adek yang masih pada sekolah/kuliah, gue saranin ikut deh organisasi/kepanitiaan apapun. Dijamin hidup kalian bakal nano-nano. Dan yang paling penting lagi, kita bakal tau kepribadian kita yang sesungguhnya melalui orang-orang di sekeliling. 

Iya. Selain belajar bertanggung jawab melalui amanah yang dibebani ke kita. Di organisasi kita juga dipertemukan dengan orang-orang yang karakternya rupa-rupa. Jadi belajar, gimana sih mestinya memperlakukan tiap orang? Apa mau dipukul rata gimanapun karakternya? Harusnya sih nggak gitu. Hehe.

Melalui mereka juga kadang jadi sadar, apa kita ini orang yang nyebelin atau menyenangkan. Sedikit-sedikit jadi belajar juga mengikis sifat-sifat nyebelin dalam diri. Atau minimal kalau nggak bisa dihilangin karena sudah mendarah daging, belajar direm lah. Sebisa mungkin dijauhin penyebab munculnya sifat nyebelin kita. Ini bermanfaat lho untuk kehidupan bermasyarakat kelak. 

Di dunia kerja apa lagi. Keliatan deh mana yang dulunya ikutan organisasi dan yang nggak. 

Sudah gitu aja. Ayo ikutan organisasi. Bukan cuma jadi anggota, lho ya. Sesekali ambil peran jadi ketua atau penanggung jawab, rasakan sensasi nyebelinnya eh menyenangkannya! ☺

Sunny… i love you 

Temans… kalian punya nggak film favorit yang nggak pernah bosan ditonton berkali-kali-kali-kali-kali-kali saking bagusnya? Pasti punya donk ya. Gue juga punyaaa! 😀

Film Korea satu episode, judulnya Sunny. Genre komedi. Dapat dari seorang teman kira-kira akhir tahun 2013. Sampai saat ini mungkin sudah 7-8 kali gue tonton ulang baik sendiri maupun ngajak teman. Sumveh, ini film kece banget!

Tentang persahabatan genk anak SMA tahun 80-an yang mereka beri nama ‘Sunny’, yang secara nggak sengaja dipertemukan kembali oleh takdir 25 tahun kemudian. Yap, alurnya maju mundur syantik gitu deh di dua masa. 80-an dan 2000-an. 

Ini film tahun 2011. Konon walau pemerannya bukan aktris-aktris terkenal Korea, tapi di negeri asalnya diancungi jempol sampai masuk dalam deretan film box office. Resensinya googling sendiri aja ya?

Intinya sih, ketua genk-nya divonis cuma punya jatah hidup dua bulan lagi karena kanker stadium akhir yang dideritanya. Dimintain tolong deh ke tokoh utama (IM Na Mi) supaya dikumpulin lagi anggota Sunny sebelum doi wafat. Melalui jasa seorang detektif sungguh amatir, satu persatu dari mereka berhasil ditemukan dengan kondisi kehidupan mengenaskan. 

Yang dulu punya cita-cita jadi Miss Korea malah jadi pelacur karena tuntutan ekonomi. Yang dulu kutu buku banget sekarang malah jadi baby sitter anak iparnya. Yang dulu cita-citanya dicintai banyak orang malah diselingkuhin sama suaminya. Yang dulu obsesi punya bulu mata badai Syahrini, malah jadi agen asuransi nol prestasi. 

Di antara mereka yang hidupnya lumayan ya cuma si Na Mi. Yang dulu murid pindahan cita-cita jadi artis, sekarang jadi IRT dari suami tajir parah. Sayang aja dianya kurang diperhatiin sama suami dan anak gadisnya. Eh sama ketua genk-nya juga deng. Doi kaya raya syekalih sampai-sampai warisanny adibagi-bagi buat anggota Sunny kecuali Na Mi. 
Film-nya ageless, dan hampir bersih dari adegan kissing dll kecuali sekali itu pun cuma sekilas. Yang makin bikin gue kesemsem soundtrack film-nya yang juga jadul. Openingnya lagu favorit gue juga. ‘Time After Time’ Cyndi Lauper yang sudah diremix, sambil nampilin kehidupan seorang IRT yang cinta dan setia sama keluarga walau sebetulnya nggak bahagia (dicampakin anak dan suami). Ini pas banget sama liriknya, boo’!

If you’re lost you can look and you will find me 

Time after time

If you fall I will caught you I’ll be waiting 

Time after time….

Bertabur juga quote-quote bagus sepanjang film tentang kehidupan, persahabatan, pentingnya punya mimpi, dll. Makanya, tiap ada teman yang minta sharing film, gue selalu rekomen Sunny di urutan pertama. 

Coba deh ditonton, rasain keseruannya terutama proses maju-mundur alurnya yang smooth banget. Selalu nyambung antara kehidupan mereka sekarang dengan masa SMA-nya alias nggak maksain. Eh, atau jangan-jangan sudah pada nonton juga? Gimana menurut kalian, bagus banget apa baguuus bangeeet? 😆

Ini adegan yang bodor banget! 😂

Syukur

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang nggak begitu agamis, tapi bangga donk disekolahin di madrasah punya ulama sejuta ummat KH Zainuddin MZ. Saban pagi sebelum berangkat sekolah dulu disetelin radio Asy-Syafi’iyah dengan ceramah-ceramah agamanya.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang ‘kiblatnya’ NU banget, tapi nggak pernah maksa ke mana ‘kiblat’ anaknya. Tugas beliau sebatas menanamkan kebaikan-kebaikan sejak kecil, pas baligh dan sudah bisa milah-milah  ya terserah gue. Bagi Babak, yang penting kebaikan-kebaikan itu nggak hilang bahkan merembet ke kebaikan lain, yang semoga bisa jadi amalan nggak putus-putus buat beliau sampai akhirat kelak.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Lahir dan besar di lingkungan keluarga Betawi yang gampang nerima nilai-nilai kebaikan dari mana pun itu. Kalau ada kebaikan dari ulama mana juga ya diambil. Ceramah Quraish Shihab, KH Zainuddin MZ, Gus Dur, Hidayat Nurwahid, Aa Gym sering gue tonton bareng Babak. Buya Hamka jadi salah satu tokoh panutan beliau juga.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Saat kami beda pendapat, Babak pasti nanya ke Ustadz/orang yang disegani, kemudian dikomunikasinlah praktek beragama anaknya yang masih bau kencur dalam beragama itu. 

Semoga bisa meneruskan ajaran Babak yang baik-baik. Nggak boleh maksa orang dalam beragama. Diajak bukan diinjak. Sama ulama mesti hormat.

***

Sedih juga sama kasus Ustadz KHB yang didemo oleh segelintir orang itu. Walau sampai sekarang gue juga masih belum sreg dengan beberapa orang Salafi. Tapi menurut gue dari beberapa kali ikut kajian beliau, KHB bukan yang saklek-saklek amat. Cenderung moderat malah. 

Mungkin yang kemarin demo mesti duduk ikut kajian beliau dulu. Jangan cuma dari Youtube atau dengar qila wa qola penghuni dunia maya, apalagi menilai beliau dari kelakuan jama’ahnya dan ke-salafi-annya. Biar bisa kenal beliau lebih dekat dan lebih akurat. Komunikasi langsung itu lebih adem. Ok! 🙂