Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 2)

Okeeey… markijut catatan perjalanan gue dan teman-teman para perindu surga menuju Teluk Kiluan, Lampung. Cerita sebelumnya ada di sini ya.

Santai lagi di pinggir pantai ๐Ÿ˜‰

Setelah sampai di home stay Kiluan Dolphin, ishoma, kami pun lagi-lagi secara tiba-tiba memutuskan untuk berancut ke Laguna Gayau. Padahal, di ELF Mbak Nuri sempat nggak rekomen pergi ke sana karena medannya yang curam naik turun tebing. Tapi begitu sampai di home stay beliau sendiri yang bilang, “Sudah sampai sini. Sayang kalau nggak ke Laguna.” Hehe.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan matching-matchingin baju biar tampil oke saat difoto *pe-rem-pu-an*, pukul 13.30 kami berangkat ke Laguna. Naik Jukung lagi kembali ke dermaga, untuk menuju ke pintu masuk Laguna Gayau. 
Dengan bermodal 5ribu rupiah per kepala, ditemani oleh Yoga–pemuda penduduk asli Kiluan yang memiliki tanah berhektar-hektar warisan ortunya di sana–kamipun memulai perjalanan dengan hati riang gembira. 

Senyum maksa menahan ngos-ngosan yg melanda ๐Ÿ˜‚

Berita baiknya, kini sudah dibuat jalur khusus lho menuju Laguna demi mempermudah perjalanan para wisatawan. Kalau dulu jalurnya agak menyulitkan sampai-sampai terlaranglah gue memakai rok *hiks* untuk menghindari jatuh keserimpet, kini sudah dibuat trek yang sudah beralaskan peluran semen dan kadang anak tangga. Masih agak curam sih, tapi katanya ini jauh lebih enak ketimbang dulu. 
Tapi teteup aja wisatawannya masih sedikit. 

Waktu kami ke sana aja cuma ada tim kami dan beberapa laki-laki yang gue taksir mereka masih satu tim gitu. Jadilah Laguna Gayau semacam private pool yang hanya mesti kami bagi jadi dua. Paling ujung para laki-laki, sebelahnya yang dibatasi dengan karang untuk kami para perempuan. Yeay, Laguna syari’ah! Hehe. 

Hoiya, saran gue sih perbanyak olah raga dulu ya sebelum memutuskan ke Laguna Gayau. Sumveh mirip-mirip nanjak gunung gitu treknya. Mesti jago atur napas deh. Saking capeknya salah satu anggota kami nyeletuk, “Ini siapa yang punya ide jalan-jalan beginiii?!”. Wkwkkk, ampuuun Maaak!!!

Beberapa langkah lagi menuju Laguna. Alhamduuulillaaah…

Setelah kurleb 45 menit jalan tertatih-tatih menanjak dan menurun, sampai juga kami di papan bertuliskan “Selamat Datang di Laguna Gayau”. Ini hadiah pertama sebelum bertemu hadiah utamanya. Menuruni beberapa anak tangga lagi. Tadaaa… this is it. Salah satu ciptaan Ilahi: Laguna Gayau!

Di bawah kaki gue ada batu karang dan ikan kecilnya juga lho…

Buat yang belum mudeng apa itu laguna. Gampangnya semacam kolam renang alami yang isinya air laut. Kok bisa? Iya, jadi ada karang tinggi yang memisahkan air laut dengan daratan yang agak mencekung. Nah, air laut dengan ombaknya yang mengganas itu pun tumpeh-tumpeh memenuhi cekungan di balik karang. Jadi deh Laguna. Keceee! ๐Ÿ˜

Tapi mesti hati-hati ya kalau mau main ke Laguna Gayau. Soalnya setahun yll beberapa kali ada insiden wisatawan yang terseret ombak di sana. Intinya sih mesti bawa guide, pakai pelampuang buat jaga-jaga, lihat kondisi laut (kalau ombak lagi gede mending nggak usah main), sama jangan main ke sana pas sore hari (ombak makin menjadi). 

Alhamdulillah pas kami main ke sana air lautnya lagi stabil. Cuma nggak lama sebelum kami memutuskan balik, tiba-tiba ombaknya makin gedd. Makanya kami langsung caw deh. Ngeri booo’!

Fokus ke air yg menyembur di belakang kami ya…

Oiya, selain Laguna, ada lagi salah satu ciptaan Ilahi yang dijamin bikin kita berdecak kagum sekaligus bergidik ngeri. Tepat di sisi kanan tangga menuju Laguna, ada lubang dengan lebar kira-kira tiga meter yang bakal menyemburkan air laut dari dasarnya saat ombak datang. Sebaliknya, ia akan kosong melompong saat ombaknya terseret lagi ke laut. 

Kalau lagi beruntung, semburan ombak dari dasarnya bisa sampai sepuluh meter dari lubangnya lho. Di satu sisi bagus buat spot foto, di satu sisi bikin ngeri. Terutama banget pas air lautnya kesedot lagi ke laut. Tiba-tiba lubangnya kosong melompong. Beberapa detik kemudian nyemburin air laut lagi tergantung besar kecilnya ombak. Ya Allah… ๐Ÿ˜

Puas main di Laguna (faktor ombak yang makin gede sih tepatnya), kami putuskan untuk kembali ke penginapan. 

Ini pantai depan penginapan yang satu lagi. Bersihnya poool!

Tapi sebelumnya, kami diajak Mbak Nuri dulu ke home staynya yang satu lagi. Lebih jauh dari tempat kami (naik Jukung lagi), lebih buwesar, dan lebih bersiiih pasirnya. Soalnya nggak ada pepohonan di sekitar pantainya.

Biar lagi liburan, jangan lupa ngaji ya! ๐Ÿ˜€

Nggak lama sih di sana. Lanjut kami balik ke penginapan melalui jalan darat (masuk hutan), bersih-bersih, ishoma, masuk ke agenda inti: ngaji bareng dan Yasinan. *pencitraan* ๐Ÿ˜Ž
Iya, ngajinya cuma sebentar. Hehe. Kemudian kami makan malam dengan menu ikan segar langsung dari laut yang dibakar di depan home stay, ngobrol sebentar, zzz…. capek!

Tunggu cerita kami mencari lumba-lumba dan snorkeling di hari berikutnya yaaa… โ˜บ (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s