Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 3)

Yak, sebelum puasa besok mau lanjutin lagi ah catatan perjalanan gue ke Teluk Kiluan, Lampung. Yang sebelumnya ada di sini dan sini yaaa… ☺

Alhamdulillah, sepanjang kami melakukan perjalanan cuacanya baguuus syekalih! Pun di hari terakhir kami di sana yang agendanya merupakan agenda utama: mencari si lumba-lumba, hey hey, bermain api, hey hey! #terBondan

Usia boleh 50an, tapi semangat jalan2 17an 😆

Bakda sholat Subuh, tilawah, chit chat tentang rumah tangga masing-masing *nasib gaul sama emak-emak 😅, sarapan dengan sukun dan pisang goreng yang begitu lezat terasa, kami pun bersiap untuk melakukan perjalanan panjang mengarungi lautan demi meet up sama si lumba-lumba.
Fyi ya Guys, Teluk Kiluan merupakan cekungan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Nah, ujungnya Teluk Kiluan (emperannya Samudera Hindia) menjadi jalur perjalanan si lumba-lumba saban pagi dan sore. Nah ini dia yang menjadi daya tarik para wisatawan yang mengunjungi Teluk Kiluan. Bahkan  bukan cuma lumba-lumba, kalau lagi  beruntung kalian bisa bertemu dengan ikan paus yang menyemburkan air melalui kepalanya. Seruuu, kan? 🐳

Emperan Samudera Hindia

Bagi wisatawan yang mau bertemu si lumba-lumba, mesti merogoh kocek sebesar 250 ribu rupiah untuk menyewa satu Jukung (buat 2-3orang) beserta satu nelayan pemandunya. Main ke tengah samudera booo’, nggak bisa dipaksain buat muat banyak orang. Hehe.

Oke lanjut. Start naik Jukung pukul 6.15 pagi. Kami bergerak ke arah selatan menuju Samudera Hindia ada kali 1.5 jam dengan ombak yang suwepeeeer gede demi meet up sama si lumba-lumba. Sayang, kondisi ombak yang begitu menjadi penghalang si hewan mamalia laut untuk melewati emperan Samudera Hindia. Hiks, rupanya belum rejeki. Dua Jukung kami dan sekitar belasan Jukung yang dinaiki wisatawan lain pun harus rela pulang dengan tangan hampa. 

Jadi ingat percakapan kami dengan ibu mertua Mba Nuri waktu kami mampir ke rumah beliau dalam perjalanan pulang di Tanjung Karang.

Ibu mertua: gimana, ketemu sama lumba-lumba?

Kami: nggak, Bu. Belum rejeki. Hehe.

IM: wah jangan kapok ya. Berarti kalian disuruh main lagi nanti ke sana. Sudah save nomornya?

Kami: nomor Mba Nuri? Sudah punya, Bu.

IM: bukan. Nomor lumba-lumbanya! 

Kami: wkwkwkkk. Sa ae Bu 😂

Oke lanjut ya. Agak sedih sih nggak jadi ketemu lumba-lumba. Soalnya ini merupakan agenda utama kami jalan jauh-jauh sampai rela dadakan nyebrang ke Sumatera. Tapi nggak kenapa juga deh. Yang penting kami pulang dengan membawa segudang hikmah. 

1. Selezat-lezatnya makanan, kalau sudah lewat tenggorokan mah sama aja dengan makanan nggak lezat. Buktinya 5 dari 6 anggota kami yang berangkat, begitu kompak untuk muntah berjama’ah akibat ombak yang sukses mengocok perut kami. Nggak ada air minum, sukun dan pisgor yang lezatpun jadi eneg terasa saat keluar lagi dari lambung kami menuju kerongkongan. Huwek!

2. Jangan remehin mahluk Allah yang bernama air. Kalau mereka sudah bersatu padu dalam lautan menjadi gelombang, lo bakal ketakutan setengah mati dibuatnya.

3. Sebutuh-butuhnya  dan secanggih-canggihnya hape yang lo bawa, nggak akan bisa nolong di tengah lautan. Justru, cuma Allah–yang selama di daratan biasa kita nomor duakan setelah hape–yang bakal selalu kita ingat dan kita jadikan satu-satunya tempat memohon pertolongan. Dia emang cuma dia yang memberi kita keselamatan baik di darat maupun di lautan.

4. Jangan pernah menganggap diri paling malang sedunia. Nggak kenapa nggak ketemu lumba-lumba, yang penting bisa selamat sampai daratan. Ini berasa banget bersyukurnya pas tau di perjalanan pulang ke penginapan, masih di lautan yang jauh dari daratan, di sisi kiri kami ada Jukung yang terbalik karena hantaman ombak yang mengganas. 

5. Seumur-umur naik kendaraan di lautan, baru kali ini gue muntah. Ini mungkin sebagai pengingat dari Allah. Gue lagi jalan sama ibu-ibu berumur 50 tahun lebih yang sibuk mengeluarkan isi perut bahkan sebelum Jukung putar arah menuju penginapan saking sulitnya nyari lumba-lumba. Coba kalau gue nggak dikasih muntah, mungkin gue bakal egois meminta bapak nelayan yang memandu kami untuk terus ke tengah samudera demi tercapainya tujuan utama. Ya, muntah nggak selamanya cemen dan buruk. 

***

Siap2 snorkeling yuk! 😆

Pukul 9.30 kami sampai di penginapan yang disambut Mbak Nuri dengan 7 buah air kelapa untuk memulihkan stamina kami. Sementara Bu Upi memilih istirahat karena mabuk lautan yang parah banget, gue dan empat anggota yang lain memilih melanjutkan agenda berikutnya: snorkeling di pantai depan penginapan. 

Ini penampakan tempat snorkeling kami. Mayan deh liat karang dan ikan2 berseliweran…

Nggak sampai setengah jam sih snorkelingannya. Soalnya kami ngejar waktu pulang. Jam11 sudah harus cek out biar sampai Jakarta nggak kemaleman. 

Ehtapi nggak bisa sih. Namanya juga ibu-ibu. Rencana tinggal rencana. Pukul 12 kurang sedikit kami baru naik Jakung menuju dermaga. Pukul 13.00 baru naik ELF memulai perjalanan pulang. 
Berhubung badan sudah pada ngereteg, kondisi jalan pulang yang off road nggak membuat mata kami gentar untuk menutup demi istirahat. 

Selain diajak mampir ke rumah mertua Mba Nuri di Tanjung Karang sambil menikmati Bakso Soni yang super enak sejagat Lampung, kami sempatkan juga beli oleh-oleh di Yen Yen. Ini dia pusat belanja oleh-oleh yang kesohor di Lampung. Harganya juga nggak begitu mahal alias standar. 

Mejeng dulu sebelum turun kapal 😂

Sampai Bakauheuni pukul 20 30. Alhamdulillah dapat kapal yang sepi dan nyamaaaan ngetz. Kami sewa ruangan VIP yang menyediakan enam tempat tidur atas bawah dan tiga bangku berjajar. Cukup deh buat kami bertujuh merebahkan badan setelah berjam-jam tidur dengan posisi duduk di ELF. 
Senin pukul 02.00 dini hari, kamipun sampai di masjid Daarut Tauhid Cipaku. Alhamdulillah… ☺

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s