Besok Hari Ibu!

Gue bukan jenis manusia yang suka merayakan momen-momen penting orang lain macam ultah. Pernah sekali-kalinya undang kakak2 dan keponakan2 untuk syukuran ultah Mamak, nggak lama beliau wafat. Emang takdir sih, tapi trauma. Hehe. Nah, apalah lagi momen Hari Ibu. Agak gengsi ngucapin “Selamat Hari Ibu” secara langsung ke beliau!

Tapi bener ya, manusia bisa tumbuh tanpa seorang ayah, tapi jarang manusia yang bisa tumbuh tanpa seorang ibu. Oh, betapa besar pengaruh seorang ibu dalam kehidupan anak manusia. Mungkin itu kali yang membuat momen hari ibu lebih santer terdengar daripada hari ayah. Di samping  hadits tentang keutamaan “ibumu ibumu ibumu baru ayahmu”.

2 tahun 8 bulan pasca Mamak wafat. Dan gue masih aja nangis kalau dalam tidur mimpiin tentang beliau. Apalagi pasca menikah, ada saat-saat gue yang kini berstatus sebagai istri keingetan Mamak sebagai istri Babak dulu. Seinget gue beliau nggak pernah tuh ngeluhin kondisi kehidupan rumah tangganya yang notabene berkurangan secara ekonomi. Alhamdulillah sih dulu belum ada gawai ya. Nggak tau deh ceritanya kalau beliau dulu sudah paham sosmed dkk. Mungkin beda cerita?

Sebelum bed rest karena serangan stroke sampai akhir hayatnya, Mamak turut serta dalam menyokong perekonomian keluarga kami. Mengurus 9 anak dengan suami hanya sebagai sekuriti, membuatnya mau nggak mau melakukan apapun biar dapur tetap ngepul. 

Waktu gue kecil pernah beliau jualan nasi ulam di depan rumah. Gue gedean pernah juga jualan beras di rumah sambil jahit2 celana  kolor. 

Ada satu yang paling berkesan waktu gue SMP. Gue diajak ke Muara Angke, naik Patas dari Blok M, buat beli sekarung aneka jenis ikan asin. 

Can you imagine… dari turun bis ke pusat pengasinan lumayan jauh. Jalanan di TKP yang becek plus bau pesing. Di sana pun nggak sebentar karena mesti cari berbagai jenis ikan asin. Pulangnya mesti geret-geret sekarung beras isi ikan asin naik turun bus. 

Nggak sampai di situ. Sampai rumah beliau mesti mlastiki ikan2 itu, buat dijual door to door ke rumah tetangga. Ya Allah, Emak gue setrong banget ya? 

Beliau begitu bersahaja menjalani kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu. Rajin bangun malam dan Dhuha. Setia mencukupi kebutuhan perut semua anggota keluarga walau dengan lauk yang ala kadarnya. 

Satu lagi yang paling berkesan. Beliau ini bisa jahit baju lho! Saking nggak memungkinkan untuk sering bela beli baju baru, hampir semua pakaiannya made in tangan beliau sendiri. Gue pun juga sama, beberapa kali dijahitin gamis yang selalu berwarna hijau–warna favorit beliau. Ini nih yang memotivasi gue untuk kursus jahit. Biar kelak bisa jahitin baju juga buat anak. Hehe.

Yaudah. Segitu aja tahadduts bi ni’mat nya punya Emak yang setrong. Doain ya biar gue teruuus jadi anak solehah, biar segala doa yang gue panjatkan untuk beliau diijabah oleh Allah. 

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha. Aamiin.

Met Hari Ibu ya! 😃 

Mamak yang selalu Cans bahkan sampai akhir hayatnya 😍

Tentang Menikah

Wah gimana gitu ya, di FB gue sering muncul berita kurang sedap dari kehidupan pasangan hafizh muda dan anaknya pengacara kondang itu. Gatel banget buat komentar, tapi mesti ditahan… tahan… tahan. Jadi deh memutuskan koar-koarnya di blog tercinta ini. 

Tapi sungguh, yang gue tulis di bawah ini bukan tentang mereka berdua, koq. Ben ae. Itu kan urusan rumah tangga mereka. 

Gue cuma mau bilang, betapa bersyukurnya gue ditakdirkan menikah di usia yang nggak lagi muda dan dikelilingi oleh para wanita dengan aneka macam permasalahan rumah tangganya. 

Untuk yang pertama, gue masih berkeyakinan kalau pernikahan di usia muda di zaman sekarang agak kurang tepat. That’s why gue kurang sreg sama akun-akun dan para tokoh yang gembor-gemborin nikah muda. Ya emang sih, yang nikah di usia gak muda pun ada aja yang pisah. Tapi seenggaknya sudah pada dewasa dan bisa lebih bijak menghadapi ujian yang ada. Mau koar-koar masalah dengan pasangan di sosmed juga kayaknya malu deh sama umur. Hehe.

Pun kalau emang para pemuda (nggak enak pakai kata remaja untuk tema pernikahan, terlalu kinyiskinyis!) mesti nikah di usia muda, ortu merekalah yang mestinya mendorong-dorong. Karena mereka yang lebih tau kemampuan dan kesiapan si anak. Lah kalau orang lain yang gemborin (apalagi yang gemborin juga baru hitungan jari usia pernikahannya), terus kita kena pancing padahal kita mah urus diri sendiri belum becus, ya babak belur nanti setelah nikah. Gampang minta cerai, gampang ucap talak. Duh!

Nah… untuk yang kedua, dari awal-awal pernikahan gue sudah diwanti-wanti oleh beberapa teman: jangan terlalu mencintai pasangan. Hati manusia gampang berbolak-balik. Cintai sekadarnya.

Bisa kebayang nggak, pengantin baru sudah didoktrin dengan kata-kata itu? Susyeeeh! 😂

Tapi gue senenggg banget. Emang betul ya. Kalau mau belajar balet, bergurunya ya sama yang ngerti balet. Lebih baik lagi kalau dianya sudah teruji dengan memenangkan berbagai penghargaan di kompetisi balet. 

Dari mereka gue belajar, niat menikah itu ya lillahi ta’ala, jalanin sunnah Rosul. Jangan sampai niat  menikah kita supaya bisa segera keluar dari rumah ortu yang penuh dengan masalah (ini namanya lari dari kandang macan ke kandang buaya). Jangan sampai juga niat menikah kita supaya ada yang bimbing (Wah, ini rentan cepat selesai kalau yang kita dapati ternyata sang imam nggak bisa bimbing bahkan prilakunya jauuuh dari yang diharapkan *serius ini nggak nyindir anaknya pengacara, cuma barangkali ada kesamaan kisah 😅). 

Jadi niat yang konon katanya klise itu emang mesti dilurusin selurus-lurusnya. Jangan sampai ada pengharapan yang berlebihan ke pasangan supaya kita begini dan begitu. Balik lagi: lillahi ta’ala, ngikut sunnah Rosul.

Baik buruknya pasangan ya terima aja dah. Kalau dia baik, banyak-banyak bersyukur. Kalau dia kurang baik, jangan diumbar-umbar ke sosmed. 

Oiya, dari salah satu teman yang sudah beranak empat dan dengan posisi dia yang jadi tulang punggung keluarga, gue dibuat takjub dengan statement beliau, “Ya mau gimana lagi, mungkin emang rejeki pernikahanku Allah kasihnya melalui aku, bukan melalui Darling (panggilang beliau ke suaminya 😍). Dia juga sudah berusaha koq buat usaha, walau gagal terus. Masa’ mau dibubarin gitu aja pernikahannya cuma gara-gara itu?”

Wooooooooow! Itu hatinya terbuat dari apa ya bisa selegowo itu menerima kekurangan pasangan yang padahal kewajiban utamanya kaum Adam ya menafkahi keluarga? 😕

Ilmu Itu Seperti Jodoh

Alhamdulillah hujaaannn! Pas banget gue lagi keingetan momen-momen perjuangan menimba ilmu 8 hari yang lalu. 

Tepatnya hari Kamis. Kami berempat sudah membuat janji akan menyambangi daerah Kramat Jati untuk menimba ilmu dari seorang guru. Waktu itu seharian hujannya macam lagu BBB: putus nyambung putus nyambung putus nyambung. Gak kelar-kelar!

Tekad gue dari yang membara buat berangkat ke sana, jadi menciut seciut-ciutnya tiap mendongak ke langit. Pikir gue, kayaknya dipending aja deh belajarnya jadi bulan depan. Cuaca nggak memungkinkan,  Cyn!

Lain kepala, lain pemikiran. Kalau menurut gue begitu, ketua kelompok kami pantang berpikir begitu! Dengan semangat yang nggak kunjung surut, doi berangkat dari kosannya dengan memakai jas hujan warna ungu polkadot lucu membelah hujan pakai ojek online. Satu lagi, dengan kondisi flu berat. Ya Salaam!

Sumveh, bahkan sampai besoknya gue masih bete mamvus gitu sama dia. Wkwkkk!

Tapi gue akuin, gue belajar banyak hal dari dia tentang yang paling penting dari proses menuntut ilmu, yang dengannya kini dia sukses menjadi petarung thifan andal, pemanah andal, penyiar radio andal, kuliah S1 & S2 di waktu yang bersamaan, dan memiliki hapalan Qur’an yang ampunampyuuun. Kalau kalian laki, dan minat sama teman gue yang high quality ini… boleh japri ke gue. Kali aja dia mau. Hehee.

Oke lanjut. Yang pertama dan paling utama adalah mencari keridhoan guru. Jadi guru kami ini spesial ilmunya. Nggak heran, nggak semua orang bisa berguru sama beliau. Nah, menurut ketua kelompok kami, dengan bersedianya beliau menerima kami sebagai murid, itu sudah jadi kehormatan buat kami para muridnya. Makanya, pantang bikin guru macam ini kecewa. 

Termasuk, apapun yang terjadi, mau hujan badai kek, kalau sudah buat janji ketemuan untuk belajar sama beliau ya harus wajib ‘ain ditepatin! 

Heuw… dengan berat hati, menerobos hujan juga lah gue pakai ojek online dari Mampang-Kramat Jati. Pun sudah pakai ponco, tetap aja bagian bawah terutama sepatu jadi kuyup bukan kepalang. Mamaaakkk!

Gue pikir ini kelebayan ketua kelompok kami aja yang memaksakan diri nerobos hujan untuk proses belajar yang nggak sampai 1 jam itu. Tapi nyatanya… 

“Ya memang begitu. Bagi para pencari ilmu sejati, ilmu itu harus diperjuangkan. Nggak bisa santai-santai. Harus ada pengorbanan.” petuah pak guru saat kami sampai juga di sana dengan kondisi kehujanan kedinginan.

Mungkin kita sudah terbiasa hidup enak. Pun dalam urusan menimba ilmu. Guru bisa dipanggil buat belajar privat di rumah. Mau cari bahan bisa langsung ke mesin pencari Google. Bahkan belajar bisa melalui online di Whatsapp. 

Bagus sih. Tapi keberkahannya jadi berkurang. Ilmu yang kita dapatin gampang didapat, gampang juga hilangnya. Kadang perlu juga sih punya kelompok belajar yang seperti ini. Biar makin semangat terus nimba ilmunya. Sepokat gak nich? 😃

Terus… maksud ilmu seperti jodoh apa donk? Ya harus dijemput, diikhtiarkan! Hehe
#latepost