Geopark Ciletuh, Semoga Keindahanmu Selalu Utuh

Alhamdulillah… long weekend gue kemarin diisi dengan berlibur ke tempat baru ( dan bersama teman-teman baru), tepatnya ke Geopark Ciletuh, yang katanya sih sedang dalam proses pengajuan ke UNESCO supaya bisa menjadi salah satu geopark macam Agnes Mo yang go internasional. Le O Le O Le O…

Geopark (taman bumi) sendiri maksudnya adalah konsep pengelolaan kawasan yang memiliki keragaman geologi, hayati, dan budaya yang pengelolaannya dilaksanakan dengan tujuan edukasi, konservasi, dan pembangunan yang berkelanjutan. Bingung, ya? Gue juga, hehe. Tapi intinya sih, yang gue tangkap kenapa disebutnya geopark, karena ia menyajikan destinasi wisata yang beraneka rupa. Mau nyari pantai, sawah, hutan, air terjun, goa dengan bebatuan yang katanya tertua di Jawa Barat, situs peninggalan jaman megalitik, sampai kebudayaan masyarakat setemoat… semua yang kamu mau, ada di sini! *iklan apa ya?

Kali ini gue berlibur bersama teman-teman satu divisi kantor suami yang terdiri dari 7 keluarga. Pukul 7.30 dua mobil memulai perjalanan dari masjid agung Bogor, melewati jalur Cikidang tembus ke perempatan Palabuhanratu. Di alun-alunnya kami berhenti sejenak untuk menemui rombongan di satu mobil lagi plus makan siang yang disiapkan oleh istri pak manajer. Makanannya ala-ala Sunda gitu. Enak deh pokoknya!

Di sini juga gue menemukan kuliner tahu gejrot khas Palabuhanratu yang punya ciri khas tanpa kuah dan ditambah kencur sebagai pelengkap. Lebih segar sih, tapi gue butuh kuah cuko seember biar bisa dikokop. Hehe.

Sekitar pukul 13.30 tiga mobil Xenia putih memulai perjalanan menuju TKP melalui jalur Loji. Kalau googling sih katanya ini jalur yang belum lama diresmikan sama Pak Aher. Kondisi jalannya mulus dan membuat waktu perjalanan semakin efisien ketimbang melewati jalur biasanya. Walaupun kalau curah hujan lagi tinggi, jalur ini nggak rekomen banget. Karena sebelah kirinya tanah dan tebing tinggi, sebelah kanannya berbatasan sama laut. Masih suka terjadi longsor, ceunah.

Alhamdulillah lagi, sepanjang hari Jumat kemarin cuaca mendukung banget. Langit pun membiru sempurna membuat siapapun yang doyan ambil foto girang bukan main!

Pemberhentian pertama kami adalah Pantai Loji. Banyak juga pengunjung yang berhenti di sini sekadar ambil foto di spot Duyung Selfie yang sudah disediakan, yang view-nya adalah Teluk Palabuhanratu dan rumah-rumah nelayan di tengah laut.

Oiya, di papannya tertera biaya dua ribu rupiah per orang bagi yang ingin mengambil foto di sana. Tapi bingung juga mau bayar ke siapa, karena nggak ada penjaganya. Padahal sudah siang menjelang sore, lho. Yaudah bayar pakai doa aja deh. Semoga yang sudah menyediakan spot foto di atas Teluk Palabuhanratu dimudahkan segala urusannya. Kalau belum menikah, segera dipertemukan dengan jodohnya. Kalau sudah menikah, dikaruniai keturunan yang soleh/ah. Aamiin.

Next, kami melanjutkan perjalanan lagi dengan trek yang kian curam. Ada pengunjung yang datang dengan menaiki mobil tua, eh nggak kuat nanjak di salah satu tanjakannya. Ada banyak juga pengunjung yang datang dengan menaiki sepeda gunung, walau kadang harus turun dari sepeda saking curamnya tanjakan, eh sampai juga ke kawasan paling atas. Nah, mobil yang gue naiki ini Xenia paling buntut kata Paksu. Hiks, kasian mesinnya, 1000 cc dengan 9 penumpang di dalamnya. Jadi deh ngeden bin meraung-raung tiap ketemu tanjakan.

Poinnya, kalau ke sini emang bagusnya naik mobil yang kuat nanjak. Mobil 4WD oke banget! Pun buat yang mau touring pakai motor, pakai motor yang cc-nya gede ya. Ada aja sih M*o dan Su*ra yang gue temui, tapi jangan nyesel kalau pulangnya malah turun mesin! :p

Pemberhentian berikutnya di Titik Pandang Puncakdarma. Kalau tadi viewnya lautan, sekarang ditambah sawah dan kebun di bawah kami. Di sini juga berjejer tukang jananan dan minuman yang harganya masih manusiawi. Salah satu yang gue temui adalah rujak buah dikasih buni seharga sepuluh ribu sepiring penuh. Ya Allah nikmat bangeeet. Kalian harus coba!

Di sini juga nggak lama, karena kami mesti menemukan homestay yang sudah dibooking dari jauh hari dan mengejar waktu sholat Ashar.

Alhamdulillah nemu musholla yang kayaknya masih baru dibangun. Karena toiletnya masih bagus. Hehe.
Mendekati pukul 18 kami baru menemukan home stay Pak Fahmi yang posisinya agak masuk ke dalam. Kami menyewa 3 rumah yang harga per rumahnya cukup murah. 500 ribu saja!

Di rumah yang gue tempatin ada 4 kamar, sayang aja kamar mandinya cuma satu dan harus sharing dengan pengunjung dadakan yang isinya cowok semua. Heuw, kan serem! Nggak rekomen deh home staynya. Googling cari yang lain aja.

***

Sabtu paginya kami menyambangi Pantai Palangpang yang jaraknya kurleb 4 kilo dari home stay. Ini sebetulnya agenda utama yang diincar oleh bocah-bocah. Sayang beribu sayang, selain airnya yang coklat (mungkin karena semalaman hujan deras), di bibir pantainya juga banyak sampah. Heuw! Akhirnya setengah mati para mamak membujuk anaknya untuk menangguhkan main ke pantai, dan ketua rombongan membuat agenda baru mampir ke pantai Palabuhanratu pulangnya.

Allah baikkk banget. Semaleman bahkan sampai pukul 8 pagi pun masih hujan, eh seharian kami main-main langit dicerahin lagi. Gerimis sih sedikit saat kami di Titik pandang Panenjoan. Alhamdulillah cuma di detik-detik akhir kami mau jalan pulang.

Ohiya, di Panenjoan ini lebih dahsyat lagi view-nya. Melihat ke bawah, kami nggak nyangka bakal sampai setinggi dan sejauh ini jalan-jalannya. Kami bisa melihat Pantai Palangpang yang berbentuk tapal kuda, dan di belakangnya terhampar sawah dan kebun. La haula wa la quwwata illa billah. Hanya Allah yang sanggup menciptakan pemandangan sebagus ini. Kita mah apa, cuma res-resan chiki di alam semesta ini. Makanya jangan banyak gaya!

Yang gue sayangkan dari perjalanan ini adalah… beberapa kali melewati petunjuk jalan menuju beberapa curug, tapi nggak ada satupun yang disambangi. Hiks, begini kalau jalan ikut rombongan. Apalagi rombongannya banyak bocahnya. Cuma pantai tujuan utamanya. Padahal Curug Awang yang konon mirip air terjun Niagara di Amriki begitu dekat dengan Panenjoan yang kami singgahi. Sudah gue kode-kode ke pemimpin rombongan supaya ke sana, teteup nggak tertangkap hajat gue (kayaknya sih karena airnya yang keruh bekas hujan ya, jadi pada nggak berminat). Wkwkkk. Mesti banget ini ke sini lagi naik motor di musim panas. Biar bisa ke banyak tempat. Aamiin.

Yak, dari Panenjoan kami naik lagi ke atas. Gue sudah ke-PD-an aja kami bakal sampai Pantai Karangbolong yang merupakan ujung selatan dari geopark ini. Ternyata salah, sodarah! Rombongan menuju Pantai Palabuhanratu melalui jalur yang lain. Kayaknya sih karena hujan semalam, jadi nggak mau ambil risiko jalanan longsor kalau balik lewat Loji.

Kurleb 2.5 jam kami pun sampai di Palabuhanratu, siap menyantap ikan segar bakar dan udang asam manis sebelum bersenag-senang dengan pantai yang benerannya. Alhamdulillah…

Oiya, denger-denger pantai ini mulai ditinggalkan orang-orang seiring dengan makin populernya Sawarna, Ujung genteng, dan tentu saja Geopark Ciletuh. Emang sih, pasir di pantai ini hitam, kalah jauh dengan Sawarna dan Ujung genteng. Tapi kalau gue tangkap sih, semakin kotornya pantai ini lah yang membuatnya sepi peminat.

Bayangin ya… selain banyak sampah sulit diurai macam styrofoam dan plastik, masa ada kasur gulung segede gaban di tengah pantai? Belum lagi gue temuin ubi, batok kelapa, ranting-ranting yang keseret-seret ombak. Duh, sedih aing!

Emang betul deh, kerusakan yang terjadi di bumi ini nggak lain karena ulah tangan manusia. Menemukan alam yang bagus, dieksploitasi habis-habisan, cari yang lain yang lebih bagus, yang lama ditinggalin. Begitu aja sampai Nobita lulus S3!

Mungkin ini yang membuat teman gue berujar, “Kalau nemu tempat wisata alam yang bagus, jangan disebar di sosmed, nanti orang-orang nggak bertanggung jawab pada datang ngerusakin!” Hiks.

Plis… kalian jangan begitu ya. Mari kita jaga dan muliakan bumi dengan segala isinya. Jangan sampai kita jadi manusia yang disinggung Al-Qur’an yang menjadi sebab rusaknya bumi. Na’udzubillah.

***
Dan… gue pun sampai di rumah pukul 23 teng! Yang tersisa hingga kini nggak lain capek dan cucian kotornya. Tapi rasa senang mendapat hal baru, pemandangan baru, dan teman-teman baru… insya Allah terus terkenang. Terima kasih Allah. Terima kasih semuaaa 😉