Teluk Kiluan: Sekeping Surga, Untuk Cahaya Surga, Dari Para Perindu Surga (Catper 1)

Kadang betul deh, yang namanya liburan itu nggak usah direncanain dari jauh-jauh hari, karena seringnya nggak terealisasi. Justru, yang dadakan malah biasanya yang jadi. Setuju nggak? 

Gue sih seringnya mengamini teori ini. Yang terakhir kejadian, saat dua Sabtu yll kelompok Qur’an kami sedang menikmati lezatnya Pempek khas Lampung, muncullah ide untuk melakukan trip ke salah satu destinasi wisata yang masih perawan di Lampung: Teluk Kiluan!

Sebut saja namanya geng SUNNY. 7 orang booo’! ๐Ÿ˜Ž

Betul aja lho terealisasi. Enam hari setelahnya, Jum’at malam (18 Juli 2017) tepatnya pukul 21.30 bertolaklah  kami–tujuh wanita perindu surga (Mba Nuri, Mba Upi, Mba Dian, Mba Ii, Mba Heni, Mba Enje, Mba Selfi)–dari masjid Daarut Tauhid Cipaku menuju pelabuhan Merak, demi menyebrangi Selat Sunda. Tepat pukul 03.00 kami pun sukses menginjakkan kaki di bumi Sumatera melalui pelabuhan Bakauheuni. Alhamduuulillah…

Selamat pagi buta, Sumatera! โ˜บ

Untuk menuju Kiluan dari Bakauheuni, kami harus menempuh perjalanan darat totalnya kurang lebih 5 JAM, Sodara/i! Alhamdulillahnya ELF yang kami naiki sudah diset hanya untuk bertujuh plus dua supir, jadi lega bin nggak capek deh. 

Ini masjid enak banget utk jadi tempat singgah. Nyaman, adem, bersih!

Lanjut… perjalanan yang 5 jam itu pun sudah dipotong sholat Subuh, sarapan bubur yang enak banget, dan mampir ke pasar untuk beli persediaan makanan sampai Ahad siang dulu di Bandar Lampung. 

Jadi dari Bakauheuni ke Bandarlampung kurleb kami tempuh 2 jam. Sementara dari Bandarlampung ke Kiluan memakan waktu kurleb 3 jam. Melewati banyak pantai di sepanjang kiri jalan (Pantai Klara 1, Pantai Klara 2, Pahawang, dllsb), rumah panggung khas Lampung, sawah, dan hamparan pohon-pohon tinggi. 

Ini lho jalur nanjak nan off-road menuju Kiluan. Ada kali 3km jalannya begini. Heuw.

Jujur ya, jalanannya nggak bagus banget untuk menuju Kiluan. Selain jalan yang banyak lubangnya, juga ada jalur off-road yang nanjak di 7 km mendekati TKP. Ngilu, linu, mual, terblend jadi satu. Mungkin ini salah satu sebab masih sedikitnya wisatawan yang mau mengunjungi Kiluan. Mereka lebih memilih Pahawang yang lebih dekat dan jalurnya lebih manusiawi. Kitu ceunah!

Tampang kesel dan capek, tapi ttp mau eksis ๐Ÿ˜‚

Tapi andai pada mau sabar dengan kondisi jalanannya, insya Allah balasannya setimpal kok. Dari gapura Selamat Datang, akan kita dapati view super kece lautan di Teluk Kiluan.  Masya Allah!

View dari dermaga. Tempat parkir Jukung โ˜บ

Setelah istirahat sebentar di warung dekat gapura, kami melanjutkan sedikit lagi perjalanan untuk menuju dermaganya Teluk Kiluan. Di sini kita akan menikmati yang namanya kampung Bali di Bandung tapi ala Lampung. 

Kok gitu? Yap, soalnya kampung di Lampung ini namanya Bandung Jaya, tapi ada banyak rumah orang Bali berjejer. Jadi liburan ke Teluk Kiluan berarti kita pergi ke 3 daerah: Lampung, Bandung, Bali. ๐Ÿ˜œ

Lanjut. Kami kira, perjalanan akan selesai setelah sampai di dermaga. Nyatanya, kami mesti naik Jukung dulu (kapal kecil berkapasitas maksimal 7-8 orang) ke arah Barat untuk sampai ke home stay milik salah satu dari kami: Mbak Nuri. Ah… a million thanks, Mbak, untuk penginapannya yang homeeey bangetzzz!

Yg mau nginep di sini, bisa follow @KiluanDolphin di Twitter. Pas banget buat yg mau menepi mencari ketenangan. ๐Ÿ˜

Nggak sampai lima menit sih di atas Jakung. Tepat pukul 11.24 waktu Lampung, kami mendarat pas di depan penginapan yang view-nya langsung Teluk Kiluan dan Pulau Kelapa–ini icon-nya Kiluan selain lumba-lumba. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Yeay!

Dari balkon home stay

Okey, sampai di sini dulu catatan perjalanan gue ke Teluk Kiluan. Nanti kita sambung lagi cerita halan-halan ke destinasi pertama: Laguna Gayau yang emeijing binggo di hari yang sama. Tapi tunggu kiriman foto-foto dulu. Hehe.

Pulau Kelapa difoto dari depan penginapan kami ๐Ÿ˜Ž

Iklan

Pavettia Natural Mineral Facial Powder (Semacam Review)

Gue percaya banget, nulis itu terapi saat kebingungan melanda para zombie aka. Zomblo Bingung. Hehe. Okey, kali ini sekadar melepas penat, mau sedikit review satu produk yang baru gue kenal.

Secuek-cueknya gue, untuk urusan perlindungan wajah dari bahaya sinar UV, masih mayan aware lah. Apalagi setelah tau sikit-sikit bahaya sinar UV dan melihat para wanita yang nggak lagi muda yang wajahnya jadi berbercak karenanya. 

Agak telat sih awarenya, tapi lebih baik daripada nggak sama sekali, kan? 

Dulu zaman ngantor rajin pakai sunscreen-nya Wardah. Terus lagi booming-boomingnya BB Cream Wardah juga ikutan nyicip walau nggak bertahan lama. 

Selain bersihin mukanya yang agak malesi di malam hari, juga disadarin sama sodara perihal BB ini. Kata doi, “Nggak usah pakai yang gitu-gituan. Mending sehatin kulit wajah dari dalam (pakai serum).”

Ah, iya juga! Akhirnya gue putuskan untuk pakai bedaknya aja (bedak Wardah juga ada SPF-nya).

Nah, belum lama. Pas banget bedak nyaris habis, sodara gue kasih link IG @pavettiaskincare. Produk kecantikan yang taglinenya “From Farm to Beauty”. Kece!

Produk yang segala komposisinya ditanam di Subang, Jawa Barat, ini produknya emang belum sebanyak Wardah. Belum ada logo halal dari MUI juga. Tapi kalau baca review dan konsepnya, worth a try lah. 

Pssttt…tiap produknya ada sertifikat Ecocert juga. Semacam pengakuan di tingkat internasional kalau produk ini beneran menggunakan bahan alami (non kimia). Begitu kalau nggak salah penjelasannya.

Sekitar tiga pekan yang lalu kebetulan ada bazar produk online di bilangan Cipete sana, salah satunya si Pavettia ini. Meluncurlah gue dan sodara ke sana demi memburu diskon 10%! ๐Ÿ˜…

Setelah jajal-jijil dan menyesuaikan dengan kondisi kantong, gue putuskan untuk membeli Pavettia Mineral Facial Powder dan Pavettia Serum Vitamin C (untuk serumnya masih in progress, jadi belum bisa direview. Nanti kalau sudah ada hasilnya ya gue review. Hehe).

Oke, kali ini kita review bedak taburnya dulu. Dengan berat yang cuma 8 gram, awalnya setengah hati sih buat beli. Tapi beberapa kali pakai, hilang sudah rasa kecewanya. Berganti jadi ketakjuban dan mau beli produk lainnya. Hehe, perempuan!

Gue beli yang warna Mocha. Agak kurang terang, harusnya pilih Latte sesuai warna kulit gue yang kuning langsat kayaknya (Pilihan lainnya ada Rossy, Latte dan Terra yang disesuaikan dengan warna kulit wajah). 

Tapi yang paling penting adalah… 

BEDAK PAVETTIA INI RINGAAAAAAAANNNN BANGET! #KEPSLOKJEBOL

Pakai bedak tapi kayak nggak pakai bedak sama syekalih lho!!! Selain bikin wajah nggak cepat memproduksi minyak, dia nggak beleber juga pas keringetan. Abis dipoles kayak langsung nempel gitu. 

Selain itu aromanya juga aroma jamu. Alami banget. Dan kabarnya walau wadahnya kecil, dia bisa sampai dua bulan pemakaian rutin. Jadi konon ownernya salah beli ukuran wadah gitu deh. Jadilah walau kecil tapi full terisi penuh macam bedak padat. 
Oiya, produk Pavettia juga nggak bisa bertahan lama. Enam bulan saja kecuali kalau disimpan di suhu ruangan. Masih bisa diperpanjang lah pemakaiannya. Intinya nggak pakai bahan pengawet kali ya, soalnya betul-betul alami.

Buat para jama’ah bedakers, kalian mesti coba deh. Selain produknya yang made in dalam negeri, juga sudah waktunya kita kembali ke produk-produk alami demi wajah kita. Udah, gitu aja review-reviewannya. ๐Ÿ˜

Kecil tapi padat lho!

Menjadi Tuli

“Rijal, kadang kita perlu menjadi tuli. Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. Sebagian suara barangkali ada untuk kita dengar, sisanya ada untuk kita abaikan. Hidup kita nggak lama, kita nggak perlu habiskan waktu dan energi untuk lakukan hal-hal yang justru kontraproduktif dengan upaya menebar kebermanfaatan kita.”

~Laras di Buku “Tuhan Maha Romantis”, Azhar Nurun Ala.

Wahai Pemuda… Berolah Ragalah!ย 

Hehe. Dua judul postingan gue sok iye banget deh. Biarin! 

Masih tentang bersyukur. Alhamdulillah terlahir sebagai golongan darah O, yang konon jiwa olah raganya besar. Dan gue mengamini.

Betul banget. Gue selalu excited dengan hal yang berhubungan dengan olah tubuh. Seruuu! Yah walaupun susah istiqomahnya. Wkwk.

Berharapnya gue, dengan olah raga, selain menguapkan lemak juga menguapkan emosi negatif yang suka menghantui. Hihi.

Setelah tahun kemarin belajar istiqomah dengan olah raga jantung harian dan terhenti karena satu dan lain hal (baca: males ๐Ÿ˜…), sekarang belajar buat istiqomah dengan olah raga lari. 

Bukan karena olah raga lari lagi kekinian, lho. Tapi gue sukses dibuat iri dengan seorang murid yang sudah mampu lari 1 jam NON-STOP! Diperkenalkanlah gue dengan program lari.

Nama programnya “From Walking to Running”. Ini buat yang masih nubie di dunia lari macam gue. Jadi selama sebulan kita dilatih buat lari tapi diselingi dengan jalan. Nggak sampai setengah jam kok. Paling lama sehari 15-20 menit. Gampang! Nanti bulan ke-dua masuk program lari benerannya.

Alhamdulillah sudah hari ke-5. Kemarin sempat stop ikutin programnya dua hari karena lagi liburan. Eh tapi tetap olah raga kok, cuma nggak ikutin programnya. Di Puncak, boook! Nggak memungkinkan buat lari. Banyak tanjakannya, hehe halasan. 

Adakah yang suka lari juga? Sudah pada jago kah? Ayooo sharing! โ˜บ

Wahai Pemuda… Berorganisasilah!ย 

Lagi. Masih tentang bersyukur. Salah satu yang gue syukuri di kehidupan ini adalah dicemplungkannya gue ke dalam organisasi sejak SMA. Nggak pernah kepikiran, gue yang dulunya pendiam bisa ikut organisasi hingga pelan-pelan jadi rame begini. Duileee! ๐Ÿ˜…

Buat siapapun terutama adek-adek yang masih pada sekolah/kuliah, gue saranin ikut deh organisasi/kepanitiaan apapun. Dijamin hidup kalian bakal nano-nano. Dan yang paling penting lagi, kita bakal tau kepribadian kita yang sesungguhnya melalui orang-orang di sekeliling. 

Iya. Selain belajar bertanggung jawab melalui amanah yang dibebani ke kita. Di organisasi kita juga dipertemukan dengan orang-orang yang karakternya rupa-rupa. Jadi belajar, gimana sih mestinya memperlakukan tiap orang? Apa mau dipukul rata gimanapun karakternya? Harusnya sih nggak gitu. Hehe.

Melalui mereka juga kadang jadi sadar, apa kita ini orang yang nyebelin atau menyenangkan. Sedikit-sedikit jadi belajar juga mengikis sifat-sifat nyebelin dalam diri. Atau minimal kalau nggak bisa dihilangin karena sudah mendarah daging, belajar direm lah. Sebisa mungkin dijauhin penyebab munculnya sifat nyebelin kita. Ini bermanfaat lho untuk kehidupan bermasyarakat kelak. 

Di dunia kerja apa lagi. Keliatan deh mana yang dulunya ikutan organisasi dan yang nggak. 

Sudah gitu aja. Ayo ikutan organisasi. Bukan cuma jadi anggota, lho ya. Sesekali ambil peran jadi ketua atau penanggung jawab, rasakan sensasi nyebelinnya eh menyenangkannya! โ˜บ

Sunny… i love youย 

Temans… kalian punya nggak film favorit yang nggak pernah bosan ditonton berkali-kali-kali-kali-kali-kali saking bagusnya? Pasti punya donk ya. Gue juga punyaaa! ๐Ÿ˜€

Film Korea satu episode, judulnya Sunny. Genre komedi. Dapat dari seorang teman kira-kira akhir tahun 2013. Sampai saat ini mungkin sudah 7-8 kali gue tonton ulang baik sendiri maupun ngajak teman. Sumveh, ini film kece banget!

Tentang persahabatan genk anak SMA tahun 80-an yang mereka beri nama ‘Sunny’, yang secara nggak sengaja dipertemukan kembali oleh takdir 25 tahun kemudian. Yap, alurnya maju mundur syantik gitu deh di dua masa. 80-an dan 2000-an. 

Ini film tahun 2011. Konon walau pemerannya bukan aktris-aktris terkenal Korea, tapi di negeri asalnya diancungi jempol sampai masuk dalam deretan film box office. Resensinya googling sendiri aja ya?

Intinya sih, ketua genk-nya divonis cuma punya jatah hidup dua bulan lagi karena kanker stadium akhir yang dideritanya. Dimintain tolong deh ke tokoh utama (IM Na Mi) supaya dikumpulin lagi anggota Sunny sebelum doi wafat. Melalui jasa seorang detektif sungguh amatir, satu persatu dari mereka berhasil ditemukan dengan kondisi kehidupan mengenaskan. 

Yang dulu punya cita-cita jadi Miss Korea malah jadi pelacur karena tuntutan ekonomi. Yang dulu kutu buku banget sekarang malah jadi baby sitter anak iparnya. Yang dulu cita-citanya dicintai banyak orang malah diselingkuhin sama suaminya. Yang dulu obsesi punya bulu mata badai Syahrini, malah jadi agen asuransi nol prestasi. 

Di antara mereka yang hidupnya lumayan ya cuma si Na Mi. Yang dulu murid pindahan cita-cita jadi artis, sekarang jadi IRT dari suami tajir parah. Sayang aja dianya kurang diperhatiin sama suami dan anak gadisnya. Eh sama ketua genk-nya juga deng. Doi kaya raya syekalih sampai-sampai warisanny adibagi-bagi buat anggota Sunny kecuali Na Mi. 
Film-nya ageless, dan hampir bersih dari adegan kissing dll kecuali sekali itu pun cuma sekilas. Yang makin bikin gue kesemsem soundtrack film-nya yang juga jadul. Openingnya lagu favorit gue juga. ‘Time After Time’ Cyndi Lauper yang sudah diremix, sambil nampilin kehidupan seorang IRT yang cinta dan setia sama keluarga walau sebetulnya nggak bahagia (dicampakin anak dan suami). Ini pas banget sama liriknya, boo’!

If you’re lost you can look and you will find me 

Time after time

If you fall I will caught you I’ll be waiting 

Time after time….

Bertabur juga quote-quote bagus sepanjang film tentang kehidupan, persahabatan, pentingnya punya mimpi, dll. Makanya, tiap ada teman yang minta sharing film, gue selalu rekomen Sunny di urutan pertama. 

Coba deh ditonton, rasain keseruannya terutama proses maju-mundur alurnya yang smooth banget. Selalu nyambung antara kehidupan mereka sekarang dengan masa SMA-nya alias nggak maksain. Eh, atau jangan-jangan sudah pada nonton juga? Gimana menurut kalian, bagus banget apa baguuus bangeeet? ๐Ÿ˜†

Ini adegan yang bodor banget! ๐Ÿ˜‚

Syukur

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang nggak begitu agamis, tapi bangga donk disekolahin di madrasah punya ulama sejuta ummat KH Zainuddin MZ. Saban pagi sebelum berangkat sekolah dulu disetelin radio Asy-Syafi’iyah dengan ceramah-ceramah agamanya.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang ‘kiblatnya’ NU banget, tapi nggak pernah maksa ke mana ‘kiblat’ anaknya. Tugas beliau sebatas menanamkan kebaikan-kebaikan sejak kecil, pas baligh dan sudah bisa milah-milah  ya terserah gue. Bagi Babak, yang penting kebaikan-kebaikan itu nggak hilang bahkan merembet ke kebaikan lain, yang semoga bisa jadi amalan nggak putus-putus buat beliau sampai akhirat kelak.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Lahir dan besar di lingkungan keluarga Betawi yang gampang nerima nilai-nilai kebaikan dari mana pun itu. Kalau ada kebaikan dari ulama mana juga ya diambil. Ceramah Quraish Shihab, KH Zainuddin MZ, Gus Dur, Hidayat Nurwahid, Aa Gym sering gue tonton bareng Babak. Buya Hamka jadi salah satu tokoh panutan beliau juga.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Saat kami beda pendapat, Babak pasti nanya ke Ustadz/orang yang disegani, kemudian dikomunikasinlah praktek beragama anaknya yang masih bau kencur dalam beragama itu. 

Semoga bisa meneruskan ajaran Babak yang baik-baik. Nggak boleh maksa orang dalam beragama. Diajak bukan diinjak. Sama ulama mesti hormat.

***

Sedih juga sama kasus Ustadz KHB yang didemo oleh segelintir orang itu. Walau sampai sekarang gue juga masih belum sreg dengan beberapa orang Salafi. Tapi menurut gue dari beberapa kali ikut kajian beliau, KHB bukan yang saklek-saklek amat. Cenderung moderat malah. 

Mungkin yang kemarin demo mesti duduk ikut kajian beliau dulu. Jangan cuma dari Youtube atau dengar qila wa qola penghuni dunia maya, apalagi menilai beliau dari kelakuan jama’ahnya dan ke-salafi-annya. Biar bisa kenal beliau lebih dekat dan lebih akurat. Komunikasi langsung itu lebih adem. Ok! ๐Ÿ™‚

Hilang dan Pulang

Kadang gue mikir, kata ‘kehilangan’ nggak selamanya menjadi perkara buruk. Soalnya Allah kasih kita pelajaran tentang kehilangan, supaya kita pulang pada-Nya.

Saat kehilangan seseorang/sesuatu, sebagian kita ada yang makin rajin berdekat-dekat pada Tuhan-nya. Dengan pulang menuju-Nya kita jadi sadar, semua yang di dunia ini cuma titipan. Nggak ada yang kekal.

Masih tentang hilang dan pulang. Waktu awal-awal kehilangan Mamak dua tahun lalu, gue sempat merasa nggak kuat berlama-lama tinggal di rumah beliau yang beberapa tahun belakangan hanya kami berdua yang menempati.

Tiap sudutnya punya cerita. Tiap pirantinya punya makna. Makanya, dua minggu setelah hari kehilangan gue putuskan untuk keluar dari sana dan hijrah mencari kost di selatan Jakarta. Seminggu sekali aja pulangnya.

Betul aja. Perlahan, rasa kehilangan itu tergantikan dengan aktivitas dan orang-orang baru. Juga, kepulangan yang cuma sekali seminggu membuat gue menikmati makna kata pulang. Pulang membuat gue senang.

Kalau dulu, pulang berarti disambut penuh suka cita oleh Mamak walau cuma dari atas kasur. Kini, pulang berarti mengenang kembali momen-momen hidup berdua Mamak. Nggak bikin sedih, melainkan ngangenin. Justru, seminggu nggak pulang malah suka bikin uring-uringan. 

Nah, ke depan kayaknya gue bakal kehilangan makna kata pulang karena satu dan lain hal, untuk kepentingan orang banyak. Walau masih ada rumah kakak-kakak yang ditawarkan untuk tempat pulang, tetap aja bukan itu makna kata pulang.

Baiklah. Kayaknya kehilangan kali ini mesti belajar untuk mengembakikan makna kata ‘pulang’ hanya pada-Nya. 

Dunia cuma persinggahan. Suka nggak suka kita mesti pulang ke kampung halaman yang sesungguhnya. Sukur-sukur dibangunin rumah kayak Asiyah istri Fir’aun di surga.
Rabbi ibni li ‘indaka baitan fi jannah. Aamiin. 

  

Baldatun Thoyyibatun

Uploadingโ€ฆ

Alhamdulillaaah… bertubi-tubi rasa syukur gue panjatkan kepada Allah SWT yang akhirnya menemukan teman gue dengan pasangan halalnya. Yeaaay!
Teman seperjuangan zaman masih semangat daftar PNS. Teman sepermalesan. Teman seperjorokan. Yang pasti, teman sepergalauan. Gue nggak nyangka Swas, lo laku juga, eh, nikah juga! Hehe.

Btw sebagai teman yang baik, gue datang jauh-jauh dari Mampang ke Ciledug ke nikahan teman gue itu. Nggak tau sudah berapa lama nggak datang ke nikahan orang dari akad-nya. Yang jelas, gue senang karena dapat ilmu yang mantab dari bapak penghulu.

Jadi kata si bapak yang gue taksir masih muda itu, nasehatin teman gue tentang pernikahan. Katanya:

“Nikah itu bukan perkara persatuan dua jiwa, dua keluarga. Tapi membangun keluarga, membangun masyarakat, membangun baldatun thoyyibatun. YANG SEMUANYA NGGAK AKAN TERWUJUD KECUALI DENGAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI.”

Manteb yaaa? Denger tuh Enje!  ๐Ÿ˜€

Yang Kucinta Tanah Airku

Lagi baca-baca ulang buku Arsitek Peradaban-nya Anis Matta, nemu paragrap syantik:

Yang tercinta tanah airku, engkaulah yang pertama kali menadah nurani kami.

Yang tercinta tanah airku, biarkan kami mencintaimu tanpa harus mempertuhankanmu . Biarkan kami menganggapmu sahabat sejati dalam kepesertaan kehidupan di alam raya. Jangan biarkan tembok ras atau pagar darah menghalangi kereta la ilaha illa llallah menyusuri padang hati manusia di atas punggungmu. Jangan biarkan nasionalisme menyekatmu dalam apa yang mereka sebut sebagai bangsa. Sebab negeri manusia yang sesungguhnya; ialah lembah iman tempat mereka membangun ‘jaringan hati’. 

Yang tercinta tanah airku, katakan kepada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian atau primordial; kata itu adalah burung hantu yang justru engkau terbangkan di langit hati kami, namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keislaman kami. Dan merpati Islam pun terbang tinggi membawa pesan kedatangan; kami kembali, o, yang tercinta tanah airku.

(bab Yang Kucinta Tanah airku, hlm 110-111).
Bagus ya? Ayo kobarkan semangat Indonesiaaa~~~