Wahai Pemuda… Berolah Ragalah!ย 

Hehe. Dua judul postingan gue sok iye banget deh. Biarin! 

Masih tentang bersyukur. Alhamdulillah terlahir sebagai golongan darah O, yang konon jiwa olah raganya besar. Dan gue mengamini.

Betul banget. Gue selalu excited dengan hal yang berhubungan dengan olah tubuh. Seruuu! Yah walaupun susah istiqomahnya. Wkwk.

Berharapnya gue, dengan olah raga, selain menguapkan lemak juga menguapkan emosi negatif yang suka menghantui. Hihi.

Setelah tahun kemarin belajar istiqomah dengan olah raga jantung harian dan terhenti karena satu dan lain hal (baca: males ๐Ÿ˜…), sekarang belajar buat istiqomah dengan olah raga lari. 

Bukan karena olah raga lari lagi kekinian, lho. Tapi gue sukses dibuat iri dengan seorang murid yang sudah mampu lari 1 jam NON-STOP! Diperkenalkanlah gue dengan program lari.

Nama programnya “From Walking to Running”. Ini buat yang masih nubie di dunia lari macam gue. Jadi selama sebulan kita dilatih buat lari tapi diselingi dengan jalan. Nggak sampai setengah jam kok. Paling lama sehari 15-20 menit. Gampang! Nanti bulan ke-dua masuk program lari benerannya.

Alhamdulillah sudah hari ke-5. Kemarin sempat stop ikutin programnya dua hari karena lagi liburan. Eh tapi tetap olah raga kok, cuma nggak ikutin programnya. Di Puncak, boook! Nggak memungkinkan buat lari. Banyak tanjakannya, hehe halasan. 

Adakah yang suka lari juga? Sudah pada jago kah? Ayooo sharing! โ˜บ

Iklan

Wahai Pemuda… Berorganisasilah!ย 

Lagi. Masih tentang bersyukur. Salah satu yang gue syukuri di kehidupan ini adalah dicemplungkannya gue ke dalam organisasi sejak SMA. Nggak pernah kepikiran, gue yang dulunya pendiam bisa ikut organisasi hingga pelan-pelan jadi rame begini. Duileee! ๐Ÿ˜…

Buat siapapun terutama adek-adek yang masih pada sekolah/kuliah, gue saranin ikut deh organisasi/kepanitiaan apapun. Dijamin hidup kalian bakal nano-nano. Dan yang paling penting lagi, kita bakal tau kepribadian kita yang sesungguhnya melalui orang-orang di sekeliling. 

Iya. Selain belajar bertanggung jawab melalui amanah yang dibebani ke kita. Di organisasi kita juga dipertemukan dengan orang-orang yang karakternya rupa-rupa. Jadi belajar, gimana sih mestinya memperlakukan tiap orang? Apa mau dipukul rata gimanapun karakternya? Harusnya sih nggak gitu. Hehe.

Melalui mereka juga kadang jadi sadar, apa kita ini orang yang nyebelin atau menyenangkan. Sedikit-sedikit jadi belajar juga mengikis sifat-sifat nyebelin dalam diri. Atau minimal kalau nggak bisa dihilangin karena sudah mendarah daging, belajar direm lah. Sebisa mungkin dijauhin penyebab munculnya sifat nyebelin kita. Ini bermanfaat lho untuk kehidupan bermasyarakat kelak. 

Di dunia kerja apa lagi. Keliatan deh mana yang dulunya ikutan organisasi dan yang nggak. 

Sudah gitu aja. Ayo ikutan organisasi. Bukan cuma jadi anggota, lho ya. Sesekali ambil peran jadi ketua atau penanggung jawab, rasakan sensasi nyebelinnya eh menyenangkannya! โ˜บ

Sunny… i love youย 

Temans… kalian punya nggak film favorit yang nggak pernah bosan ditonton berkali-kali-kali-kali-kali-kali saking bagusnya? Pasti punya donk ya. Gue juga punyaaa! ๐Ÿ˜€

Film Korea satu episode, judulnya Sunny. Genre komedi. Dapat dari seorang teman kira-kira akhir tahun 2013. Sampai saat ini mungkin sudah 7-8 kali gue tonton ulang baik sendiri maupun ngajak teman. Sumveh, ini film kece banget!

Tentang persahabatan genk anak SMA tahun 80-an yang mereka beri nama ‘Sunny’, yang secara nggak sengaja dipertemukan kembali oleh takdir 25 tahun kemudian. Yap, alurnya maju mundur syantik gitu deh di dua masa. 80-an dan 2000-an. 

Ini film tahun 2011. Konon walau pemerannya bukan aktris-aktris terkenal Korea, tapi di negeri asalnya diancungi jempol sampai masuk dalam deretan film box office. Resensinya googling sendiri aja ya?

Intinya sih, ketua genk-nya divonis cuma punya jatah hidup dua bulan lagi karena kanker stadium akhir yang dideritanya. Dimintain tolong deh ke tokoh utama (IM Na Mi) supaya dikumpulin lagi anggota Sunny sebelum doi wafat. Melalui jasa seorang detektif sungguh amatir, satu persatu dari mereka berhasil ditemukan dengan kondisi kehidupan mengenaskan. 

Yang dulu punya cita-cita jadi Miss Korea malah jadi pelacur karena tuntutan ekonomi. Yang dulu kutu buku banget sekarang malah jadi baby sitter anak iparnya. Yang dulu cita-citanya dicintai banyak orang malah diselingkuhin sama suaminya. Yang dulu obsesi punya bulu mata badai Syahrini, malah jadi agen asuransi nol prestasi. 

Di antara mereka yang hidupnya lumayan ya cuma si Na Mi. Yang dulu murid pindahan cita-cita jadi artis, sekarang jadi IRT dari suami tajir parah. Sayang aja dianya kurang diperhatiin sama suami dan anak gadisnya. Eh sama ketua genk-nya juga deng. Doi kaya raya syekalih sampai-sampai warisanny adibagi-bagi buat anggota Sunny kecuali Na Mi. 
Film-nya ageless, dan hampir bersih dari adegan kissing dll kecuali sekali itu pun cuma sekilas. Yang makin bikin gue kesemsem soundtrack film-nya yang juga jadul. Openingnya lagu favorit gue juga. ‘Time After Time’ Cyndi Lauper yang sudah diremix, sambil nampilin kehidupan seorang IRT yang cinta dan setia sama keluarga walau sebetulnya nggak bahagia (dicampakin anak dan suami). Ini pas banget sama liriknya, boo’!

If you’re lost you can look and you will find me 

Time after time

If you fall I will caught you I’ll be waiting 

Time after time….

Bertabur juga quote-quote bagus sepanjang film tentang kehidupan, persahabatan, pentingnya punya mimpi, dll. Makanya, tiap ada teman yang minta sharing film, gue selalu rekomen Sunny di urutan pertama. 

Coba deh ditonton, rasain keseruannya terutama proses maju-mundur alurnya yang smooth banget. Selalu nyambung antara kehidupan mereka sekarang dengan masa SMA-nya alias nggak maksain. Eh, atau jangan-jangan sudah pada nonton juga? Gimana menurut kalian, bagus banget apa baguuus bangeeet? ๐Ÿ˜†

Ini adegan yang bodor banget! ๐Ÿ˜‚

Syukur

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang nggak begitu agamis, tapi bangga donk disekolahin di madrasah punya ulama sejuta ummat KH Zainuddin MZ. Saban pagi sebelum berangkat sekolah dulu disetelin radio Asy-Syafi’iyah dengan ceramah-ceramah agamanya.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Punya Babak yang ‘kiblatnya’ NU banget, tapi nggak pernah maksa ke mana ‘kiblat’ anaknya. Tugas beliau sebatas menanamkan kebaikan-kebaikan sejak kecil, pas baligh dan sudah bisa milah-milah  ya terserah gue. Bagi Babak, yang penting kebaikan-kebaikan itu nggak hilang bahkan merembet ke kebaikan lain, yang semoga bisa jadi amalan nggak putus-putus buat beliau sampai akhirat kelak.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Lahir dan besar di lingkungan keluarga Betawi yang gampang nerima nilai-nilai kebaikan dari mana pun itu. Kalau ada kebaikan dari ulama mana juga ya diambil. Ceramah Quraish Shihab, KH Zainuddin MZ, Gus Dur, Hidayat Nurwahid, Aa Gym sering gue tonton bareng Babak. Buya Hamka jadi salah satu tokoh panutan beliau juga.

Kadang malu kalau nggak bersyukur

Saat kami beda pendapat, Babak pasti nanya ke Ustadz/orang yang disegani, kemudian dikomunikasinlah praktek beragama anaknya yang masih bau kencur dalam beragama itu. 

Semoga bisa meneruskan ajaran Babak yang baik-baik. Nggak boleh maksa orang dalam beragama. Diajak bukan diinjak. Sama ulama mesti hormat.

***

Sedih juga sama kasus Ustadz KHB yang didemo oleh segelintir orang itu. Walau sampai sekarang gue juga masih belum sreg dengan beberapa orang Salafi. Tapi menurut gue dari beberapa kali ikut kajian beliau, KHB bukan yang saklek-saklek amat. Cenderung moderat malah. 

Mungkin yang kemarin demo mesti duduk ikut kajian beliau dulu. Jangan cuma dari Youtube atau dengar qila wa qola penghuni dunia maya, apalagi menilai beliau dari kelakuan jama’ahnya dan ke-salafi-annya. Biar bisa kenal beliau lebih dekat dan lebih akurat. Komunikasi langsung itu lebih adem. Ok! ๐Ÿ™‚

Hilang dan Pulang

Kadang gue mikir, kata ‘kehilangan’ nggak selamanya menjadi perkara buruk. Soalnya Allah kasih kita pelajaran tentang kehilangan, supaya kita pulang pada-Nya.

Saat kehilangan seseorang/sesuatu, sebagian kita ada yang makin rajin berdekat-dekat pada Tuhan-nya. Dengan pulang menuju-Nya kita jadi sadar, semua yang di dunia ini cuma titipan. Nggak ada yang kekal.

Masih tentang hilang dan pulang. Waktu awal-awal kehilangan Mamak dua tahun lalu, gue sempat merasa nggak kuat berlama-lama tinggal di rumah beliau yang beberapa tahun belakangan hanya kami berdua yang menempati.

Tiap sudutnya punya cerita. Tiap pirantinya punya makna. Makanya, dua minggu setelah hari kehilangan gue putuskan untuk keluar dari sana dan hijrah mencari kost di selatan Jakarta. Seminggu sekali aja pulangnya.

Betul aja. Perlahan, rasa kehilangan itu tergantikan dengan aktivitas dan orang-orang baru. Juga, kepulangan yang cuma sekali seminggu membuat gue menikmati makna kata pulang. Pulang membuat gue senang.

Kalau dulu, pulang berarti disambut penuh suka cita oleh Mamak walau cuma dari atas kasur. Kini, pulang berarti mengenang kembali momen-momen hidup berdua Mamak. Nggak bikin sedih, melainkan ngangenin. Justru, seminggu nggak pulang malah suka bikin uring-uringan. 

Nah, ke depan kayaknya gue bakal kehilangan makna kata pulang karena satu dan lain hal, untuk kepentingan orang banyak. Walau masih ada rumah kakak-kakak yang ditawarkan untuk tempat pulang, tetap aja bukan itu makna kata pulang.

Baiklah. Kayaknya kehilangan kali ini mesti belajar untuk mengembakikan makna kata ‘pulang’ hanya pada-Nya. 

Dunia cuma persinggahan. Suka nggak suka kita mesti pulang ke kampung halaman yang sesungguhnya. Sukur-sukur dibangunin rumah kayak Asiyah istri Fir’aun di surga.
Rabbi ibni li ‘indaka baitan fi jannah. Aamiin. 

  

Baldatun Thoyyibatun

Uploadingโ€ฆ

Alhamdulillaaah… bertubi-tubi rasa syukur gue panjatkan kepada Allah SWT yang akhirnya menemukan teman gue dengan pasangan halalnya. Yeaaay!
Teman seperjuangan zaman masih semangat daftar PNS. Teman sepermalesan. Teman seperjorokan. Yang pasti, teman sepergalauan. Gue nggak nyangka Swas, lo laku juga, eh, nikah juga! Hehe.

Btw sebagai teman yang baik, gue datang jauh-jauh dari Mampang ke Ciledug ke nikahan teman gue itu. Nggak tau sudah berapa lama nggak datang ke nikahan orang dari akad-nya. Yang jelas, gue senang karena dapat ilmu yang mantab dari bapak penghulu.

Jadi kata si bapak yang gue taksir masih muda itu, nasehatin teman gue tentang pernikahan. Katanya:

“Nikah itu bukan perkara persatuan dua jiwa, dua keluarga. Tapi membangun keluarga, membangun masyarakat, membangun baldatun thoyyibatun. YANG SEMUANYA NGGAK AKAN TERWUJUD KECUALI DENGAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI.”

Manteb yaaa? Denger tuh Enje!  ๐Ÿ˜€

Yang Kucinta Tanah Airku

Lagi baca-baca ulang buku Arsitek Peradaban-nya Anis Matta, nemu paragrap syantik:

Yang tercinta tanah airku, engkaulah yang pertama kali menadah nurani kami.

Yang tercinta tanah airku, biarkan kami mencintaimu tanpa harus mempertuhankanmu . Biarkan kami menganggapmu sahabat sejati dalam kepesertaan kehidupan di alam raya. Jangan biarkan tembok ras atau pagar darah menghalangi kereta la ilaha illa llallah menyusuri padang hati manusia di atas punggungmu. Jangan biarkan nasionalisme menyekatmu dalam apa yang mereka sebut sebagai bangsa. Sebab negeri manusia yang sesungguhnya; ialah lembah iman tempat mereka membangun ‘jaringan hati’. 

Yang tercinta tanah airku, katakan kepada mereka yang mencoba menyebut kami sektarian atau primordial; kata itu adalah burung hantu yang justru engkau terbangkan di langit hati kami, namun kini telah tertembak mati oleh senapan nurani keislaman kami. Dan merpati Islam pun terbang tinggi membawa pesan kedatangan; kami kembali, o, yang tercinta tanah airku.

(bab Yang Kucinta Tanah airku, hlm 110-111).
Bagus ya? Ayo kobarkan semangat Indonesiaaa~~~

Garagara Sampah

Begini nih nasib perempuan dewasa (((dewasa))) yang masih single. Update status ada kata ‘laki2/pria/cowok’ dan ‘cinta’, pasti disangka galau. Ahelah, nggak asik!

 Jadi kemarin gue update status FB tentang beberapa laki-laki yang gue temui di aksi #112 di Istiqlal, yang peduli sama sampah pengunjung masjid yang berserakan di halaman masjid. Saat yang lain masa bodo dengan sampah yang mereka produksi apalah lagi dengan sampah orang lain, kan istimewa ya mereka yang masih peduli dengan urusan umat Islam Indonesia yang nggak kelar-kelar: kotor!
Gue update lah status tentang mereka dengan ending ‘Harapan itu masih ada!’. Yah, komennya kok nyerempet ke ‘sana’ ya? Antara doa, perasaan senasib dan dukungan moril ke gue semoga begini dan begitu. Hehe, lucu lucu lucu!

Mungkin ya, mungkin lho. Karena kata ‘laki2’ dan ‘harapan’. Jadi pada salah paham deh.

Oke, di blog ini gue mau klarifikasi. Status FB gue murni tentang Indonesia, bukan tentang jodoh apalagi nikah. Maksud endingnya adalah, masih banyak kok orang baik di Indonesia. Orang yang peduli sama masalah umat walau kerjanya nggak diekspos media. Masih ada harapan untuk negara kita bangkit dari keterpurukan yang nggak tau di mana ujungnya ini.

Kenapa pakai kata ‘laki2’ bukan ‘orang2’? Soalnya kalau ‘orang2’ itu jamak. Ada laki2 dan perempuan. Itu namanya gue ngomongin diri sendiri dooonk? Nanti hangus lah amalan gue. Wkwkkk. 

Ayo lah, nggak usah kebanyakan ngobrolin atau baca buku/artikel yang melulu ngebahas tentang nikah/jodoh, kecuali buat persiapan. Itu bukan buat digalauin, tapi dipraktekin! Masih banyak lho tema lain yang nggak kalah asik buat dibahas. Pendidikan, kesehatan, kebersihan, persatuan, toleransi yang benar, dll.

Jangan keseringan ikut arus utama di dunia maya. Kalau nggak kubu jodoh, kubu politik. Peduli itu wajib, grasa-grusu jangan. Aktif di dunia maya, tapi di dunia nyata NOL. Duh! 

Udah, intinya mari move on dari jadi orang kecil yang cuma mikirin diri sendiri, jadi orang besar yang gelisah kalau hidup cuma buat mikirin diri sendiri. Woy, serius amat ini curcolannya. Wkwkkk, mohon dimaafkan. 

Ngilmu Sama Mbakyu

Har-hari terasa hampa ya kalau gak bisa update blog dari hape? Alhamdulillah, per hari ini aplikasi wordpress gue sudah aktif lagi. Yeay!

Beneran rejeki anak solehah ini namanya. Soalnya dari kapan tau login, selaluuu gagal. Nah, setelah berpusing-pusing ria dengan naskah orang lain, kayak emang disuruh bersenang-senang dengan tulisan sendiri deh, walau seringan randomnya. Makasih, ya Allaaah. ๐Ÿ™‚

Beberapa hari yang lalu, kesampaian juga gue ngobrol syantik sama seorang Mbakyu yang di lingkungan kami terkenal dengan ilmu Qur’an-nya yang okeh banget. Sudah lama gue pengin ngobrol sama beliau sebetulnya. Sayang aja banyak qiila wa qoola tentang pribadi beliau yang super tegas kalau nggak boleh dibilang galak.

Dan, itulah tantangannya. Makin dibilang begini dan begitu, gue makin ngeyel. Gimana caranya gue jabanin deh supaya bisa ngobrol dan ‘nyuri’ ilmu dari beliau. 
Awal mulanya gue ngenalin diri pas papasan di lift sebuah perkantoran di bilangan Gatsu beberapa bulan lalu. Nggak nyangka, sampai searang ternyata beliau masih inget nama gue. Buktinya, pas ada kesempatan ngobrol kemarin dia selalu mengakhiri wejangannya dengan kata “…, Nje.” Yesss!

Obrolan berdurasi satu jam itu rasanya berbobot banget. Bukan cuma ngobrol, tapi gue minta doi buat praktekin baca Qur’an. Fyi, beliau ini haus banget sama ilmu. Sudah melanglang buana cari guru bertahun-tahun, terakhir beliau habiskan waktu satu bulan selama Ramadhan kemarin buat ngilmu di Madinah. 

Gimana suka dukanya ngilmu ke sana kemari, doi beberin buat gue. Alhamdulillah, jadi makin semangat belajar dan lanjut kuliah, Ceuw! ๐Ÿ˜€

Dari sekian obrolan kami, satu yang paling berkesan waktu gue tanya: sebetulnya yang bener bacaan Qur’an yang mana, Zah?

Katanya, “Ya gak bisa gitu, Nje. Dia gurunya pake mazhab Suriah, guru kamu pake mazhab Sudan, guru saya pake mazhab Madinah. Ya gak nyambung kalau mau dicari yang paling benar. Walaupun saya lebih memilih yang paling dekat dengan tempat Qur’an turun. Sudah, kamu belajar aja yang bener sama guru kamu ya, Nje.”

Emang beda deh kalau orang berilmu. Lebih bijak, gak main menghakimi dan merasa paling benar. Istimewa!

Single Parent

Gue kayak pernah cerita deh, tentang seorang kenalan yang memutuskan untuk mengurus sendiri dua anaknya sejak mereka masih di bangku SD, lantaran nggak mau dimadu sama suaminya.

Belum lama gue ketemu lagi dengan beliau. Lagi-lagi, ada yang bikin nyes di dada. Perih!

Waktu itu kami lagi janjian mau ketemu seorang teman. Pas dari jauh yang ditunggu sudah tampak, percakapan singkat itu terjadi.

Gue: si mbak itu awet muda banget ya. Ngiri, euy!
Teman: Iya. Masih pecicilan juga. Suka lupa umur. Hehe.
Gue: siapa yang nyangka anaknya sudah pada kuliah. Udah bukan kayak anak sama ibu. Keren!
Teman: itulah enaknya nikah muda, Mba. Kami sama-sama nikah muda. Bedanya, dia sukses, aku gagal. Hehe.
Gue: *speechless*

Di lain kesempatan, saat mengenalkan diri dengan orang baru, juga sama. Beliau selalu menekankan status ke-single parent-annya dengan lepasnya.

Orang baru: Saya X. Sudah berkeluarga. Punya anak dua.
Gue: Enje. Single.
Teman: Saya Y. Single parent.
Gue: *speechless lagi*

Kadang gue nggak habis pikir… perih di hati macam apa ya yang bisa membuat perempuan sampai segitu tegarnya? Menjadikan lukanya sebagai hal lumrah yang nggak minta diratapi, bisa senyum lepas menyoal statusnya sebagai seorang perempuan. Pun gue tau banget, kalau sudah kepanjangan obrolan kami, beliau bakal menitikkan air mata saking perihnya.

Hmmm, pasti perih yang berlipat-lipat ya? Banget, Enje!

Bukannya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Tapi, dipertemukan dengan orang-orang kayak gitu, gue jadi banyak bersyukur plus malu. Seberat-beratnya ujian gue, ternyata nggak ada apa-apanya dibanding beliau.

Ya Allah, doa hamba cuma satu. Semoga anak-anaknya jadi anak yang soleh dan solehah. Aamiin.